Meski masih 2 tahun lagi, namun sudah banyak yang membicarakan mengenai Pilpres 2019. Bahkan jauh-jauh hari, nama Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto sudah digadang-gadang bakal kembali bertarung di Pilpres mendatang. Namun benarkah kedua sosok tersebut yang diinginkan rakyat?

Hasil sigi Media Survei Nasional (Median) mengenai calon presiden ternyata cukup mengejutkan. Masyarakat yang disurvey ternyata lebih memilih calon alternatif dibandingan Jokowi atau Prabowo.

Seperti diwaratakan jawapos.com, survey yang bertema ‘Pipres 2019: Jokowi atau Prabowo atau Figur Alternatif’ itu menunjukan jika 40,6 persen berkeinginan untuk memilih presiden alternatif.

Hal itu berdasarkan tingkat elektabilitas Jokowi maupun Prabowo yang tidak ada yang melebihi 50 persen. Elektabilitas Jokowi 36,2 persen dan Prabowo 23,2 persen.

Nilai elektabilitas keduanya jika digabung, maka ada 40,6 persen masyarakat yang sebenarnya tidak menginginkan keduanya jadi Presiden periode berikutnya.

Calon-calon alternatif yang dipilih publik diantaranya adalah Susilo Bambang Yudhoyono yang memperoleh 8,4 persen, Anies Baswedan 4,4 persen, Gatot Nurmantyo 2,8 persen, Jusuf Kalla 2,6 persen. Hari Tanoe 1,5 persen, Abu Rizal Bakrie 1,3 persen, Ridwan Kamil 1,2 persen, Tri Risma Harini 1,0 persen, tokoh lainya 4,1 dan 13,3 persen responden tidak tahu/tidak jawab.

“Ada 40,6 persen publik tidak ingin Prabowo dan Jokowi. Ternyata jumlah yang tidak ingin mereka terpilih kembali lebih besar,” kata Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (2/10/2017).


Rico menjelaskan jika salah satu alasan publik tidak lagi bersedia memilih Prabowo ataupun Jokowi karena keduanya dianggap tidak mampu menyelesaiakan problem bangsa Indonesia yang saat ini terjadi.

Kondisi ekonomi, persoalan keamanan dan juga isu mengenai adanya kriminalisasi terhadap ulama serta soal tindakan pemerintah yang dinilai otoriter dan represif juga menjadi salah satu keengganan rakyat memilih Jokowi.

“Soal siapa figur alternatif itu, kami belum konsolidasi ke satu tokoh, yang pasti siapa yang dianggap mampu menyelesaikan himpitan hidup, dan mampu meyakinkan kepada publik bahwa harga sembako dan tarif listrik tidak lagi mahal, itu yang dipilih,” ujar Rico.

Survey itu sendiri dilaksanakan pada 14-22 September 2017 dengan 1000 responden dengan populasi survei terhadap seluruh warga Indonesia yang masuk ke dalam ketegori pemilih.

Memakai margin of eror sebesar kurang lebih 3,1 % dengan tingkat kepercayaan 95%. Metode yang dipilih yakni multistage random sampling dan proporsional atas populasi Provinsi dan gender. Sedangkan quality control dilakukan terhadap 20% sampel yang ada.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here