Sebuah temuan mengejutkan soal Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) baru saja terungkap.

Bagaimana tidak, ternyata 30 hari menjelang peristiwa yang menjadi sejarah kelam bangsa Indonesia itu, agen intelijen Amerika Serikat, CIA, ternyata terus memantau Indonesia.

Mereka juga terus melaporkan tiap kejadian di Indonesia sejak 1 September 1965, hingga peristiwa berdarah itu pecah. Benarkah CIA terlibat dalam G30S/PKI?

Dilansir detik.com, para agen intelijen CIA di indonesia sangatlah aktif memantau perkembangan politik di Tanah Air. Bahkan, setiap perkambangan yang terjadi juga dilaporkan pada Presiden Lyndon B Johnson melalui The President’s Daily.

Setelah puluhan tahun peristiwa tersebut berlalu, akhirnya CIA membuaka laporan itu untuk publik. Namun, sejumlah laporan sengaja disensor dan tak dibuka ke publik.

Dilihat dari situs resmi CIA, Selasa (26/9/2017), terdapat sejumlah laporan mengenai pergerakan PKI, Presiden Soekarno, serta tentara Indonesia.

Dari sejumlah laporan sebelum peristiwa G30S/PKI terjadi, laporan pada tanggal 1 September 1965 dan 13 September 1965 disensor seluruhnya. Lantas, apa yang dilaporkan CIA pada presiden yang memimpin Amerika kala itu?


Dilansir dan diterjemahkan oleh detik.com, berikut rangkuman laporan CIA pada bulan September 1965 sesuai The President’s Daily Brief:

1 September 1965

Disensor seluruhnya

2 September 1965

Soekarno melanjutkan langkah anti-Barat. Dia memerintahkan orang-orangnya membuat konferensi internasional bertema ‘anti pangkalan militer’ pada bulan Oktober. Panitia persiapannya dikepalai oleh pakar hubungan luar negeri dari PKI. Sejauh ini terindikasi kalau konferensi ini akan mempersoalkan pangkalan militer AS.

Di ranah domestik, kelompok Komunis dan pendukungnya terpacu dengan pidato Soekarno terakhir, dan siap menggebuk kelompok anti-Komunis.

4 September 1965

Soekarno berencana melakukan kunjungan luar negeri ke Italia, Spanyol dan Meksiko. (Sebagian paragraf disensor).

Rencana kunjungan luar negeri ini artinya dia sudah mengatasi masalah domestik yang membuatnya memangkas kunjungan luar negeri sebelumnya.

7 September 1965

3.000-5.000 massa meneriakan yel-yel kelompok kiri memblokir akses masuk Konjen AS di Surabaya pagi ini. Walau pegawai konsultan kemudian bisa masuk ke gedung, aksi ini mungkin adalah fase awal dari kampanye sayap kiri yang sudah bisa diduga untuk memaksa konsulat ditutup.

10 September 1965

Jenderal di Medan memperingatkan Konjen AS di sana untuk siap menghadapi unjuk rasa melawan konsulat dalam waktu dekat. Jenderal itu juga menyarankan WN Amerika yang kerja di perkebunan karet untuk pindah ke Medan sebagai antisipasi keselamatan.

Pemerintah di Jakarta mungkin bersiap mengambil alih aset produksi dan penyulihan dari 3 perusahaan minyak milik Barat yang masih beroperasi. Dua -Caltek dab Stanvac- adalah milik AS.

13 September 1965

Disensor seluruhnya

14 September 1965

Unjuk rasa pro-Komunis, didukung pemerintah, terus menekan Konjen AS di Medan dan Surabaya.

Sebagai tambahan, (sebagian kalimat disensor) PKI melaporkan bermaksud berunjuk rasa melawan Kedubes AS di Jakarta. Sebuah ‘pusat kendali’ untuk aksi ini sudah dibuat di belakang rumah dinas Menlu Subandrio.

Subandrio menunjukan sikap tidak tahu malu kepada Dubes Green kemarin, dengan meminta Green yakin kalau perusakan properti milik AS atau pelecehan terhadap pegawai AS akan dihindari.

17 September 1965

Tekanan berlanjut melawan kehadiran AS. Massa buruh di Surabaya menebar ancaman memotong listrik Konjen dan rumah pejabat Konjen kecuali ada ‘langkah tegas’ diambil untuk menutup konsulat.

Di Jakarta hari ini, ada massa demonstran di depan Kedubes AS, menyebut India sebagai boneka AS-Inggris dan meminta AS dan Inggris segera keluar dari Asia Tenggara.

Setelah tanggal 17 September 1965, tak ada lagi laporan untuk presiden. Tak ada pula laporan tentang pergerakan pasukan menculik sejumlah jenderal TNI AD.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here