Rodrigo Duterte yang merupakan Presiden Filipina memang terkenal keras dan tak pandang bulu dalam menyikapi kasus peredaran narkoba di negaranya. Namun siapa sangka ia berani mengancam membunuh anaknya sendiri yang saat ini diduga tengah terlibat kasus penyelundupan narkotika. Ancaman tersebut dilontarkan Duterte terkait kebijakan perang melawan kejahatan narkoba yang telah menewaskan ribuan orang.

Kepada awak media, seperti dilansir laman BBC via Metrotvnews.com, Jumat (22/9/2017), sang presiden menyatakan akan membunuh Paolo Duterte apabila anaknya itu memang terbukti ada sangkut pautnya dengan narkoba.

Dugaan keterlibatan Paolo terkuak dalam sebuah penyelidikan senat Filipina di awal bulan ini. Paolo bersikeras tuduhan bahwa dirinya membantu mengirimkan narkoba dari Tiongkok ke Filipina itu hanyalah rumor belaka.

“Saya akan memberikan perintah membunuh jika Anda tertangkap. Dan saya akan melindungi polisi yang membunuh Anda, jika (tuduhan) itu terbukti benar,” tegas Duterte kepada anaknya sendiri.

Sementara itu, di tengah pengusutan kasus Paolo ini, sekelompok warga mengecam kebijakan perang melawan narkoba ala Duterte. Selain karena banyaknya orang yang tewas dalam perang ini, para pengunjuk rasa mengecam wacana Duterte mengembalikan status darurat militer dalam perang melawan narkoba.

Sekalipun demikian, ada juga ribuan warga lain yang berunjuk rasa dan mendukung kebijakan Duterte.

Para pengunjuk rasa turun ke jalanan dengan membawa poster bertuliskan ‘Hentikan Pembunuhan’ dan ‘Katakan Tidak untuk Darurat Militer.’ Protes mereka bukanlah tanpa dasar—pasalnya, mereka ketakutan Duterte akan mengulang kepemimpinan ala diktator seperti Ferdinand Marcos di masa lalu.


Karena cemas era Marcos berkemungkinan terulang, Wakil Presiden Filipina, Leni Robredo meminta masyarakat untuk mengingatkan Duterte atas ‘warisan penindasan Marcos. Selama ini, diketahui bahwa Leni Robredo merupakan seorang politikus liberal.

“Jika kita tidak mengingat masa lalu, maka peristiwa serupa bisa terjadi lagi,” ujarnya.

Seperti diketahui, perang narkoba ala Duterte mulai diberlakukan sejak dirinya menjabat sebagai presiden Filipina pada Juli 2016. Sejak saat itu, ribuan orang yang diduga terlibat narkoba telah dibunuh. Penumpasan tak hanya dilakukan oleh polisi, namun juga pembunuh yang ‘tak teridentifikasi.’

 

Kematian seorang remaja dalam perang narkoba ini sempat memicu kontroversi. Pasalnya, sejumlah warga menjadi geram atas kebijakan Duterte yang selama setahun belakangan ini dinilai terlalu brutal.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here