starbucks

Hak Cipta ©DarkFritz via Wikimedia Commons

Lintas.co.id – Beberapa waktu ini seruan boikot Starbucks di Indonesia mulai rami diperbicangkan di media sosial, hal ini lantaran adanya dukungan dari gerai kopi tersebut kepada LGBT yang telah dianggap dapat merusak nilai agama dan budaya Indonesia.

REKOMENDASI : Trending: Penggerebekan Pesta Gay Bertajuk ‘The Wild One’ di Kelapa Gading Jadi Sorotan Mata Dunia!

Dari beberapa laporan sejak muculnya seruan itu, seruan boikot Starbucks bahkan juga muncul di Malaysia. Akan tetapi, kenapa seruan itu baru mucul beberapa waktu ini? padahal adanya dukungan Starbucks kepada LGBT sudah diungkapkan sejak bertahun-tahun lalu.

Berawal dari Twitter telah mucul tagar ‘Boikot Starbucks’ pada Kamis pekan lalu, akan tetapi baru saja menjadi perbincangan yang luas pada Jumat (30/6/17). Beberapa orang yang mentautkan adanya pemberitaan terkait seruan pemboikotan dari beberapa pihak diantaranya adalah Wakil Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris dan PP Muhammadiyah.

Menurut Anwar Abbas dari Muhammadiyah, pemerintah saat ini harus melakukan penarikan izin beroperasi kepada Starbucks, hal itu karena dukungan mereka kepada LGBT yang memang tidak sesuai dengan ‘ideologi negara’.

“Jika Starbucks hanya berbisnis, tidak masalah. Tapi jangan membawa ideologi ke sini,” ucapnya dikutib dari Reuters.

starbucks.Hak Cipta ©Associated Press

Sekarang ini tagar ‘Boikot Starbucks’ sudah dipakai oleh lebih dari 25.000 kali. Dalam tagar tersebut telah dipenuhi dengan beberapa pihak yang setuju dan tidak adanya seruan tersebut.

REKOMENDASI : Trending: Berbagai Alat BDSM Ditemukan dalam Acara Pesta Gay ‘The Wild One’ di Kelapa Gading!

Sedangkan aktivis LGBT telah memberikan tanggapan sinis atas muculnya seruan boikot Starbucks di Twitter beberapa waktu belakangan ini. “Ya bukan kejutan sih, mereka (pihak pemboikot Starbucks) kan homofobik dan transfobik,” kata Aktivis Pendiri GAYa NUSANTARA, Dede Oetomo, Senin (3/7).

Dede menilai, kalau adanya aksi boikot-memboikot merupakan hal yang biasa di negara demokrasi. Akan tetapi, pihaknya mengatakan kalau alasannya itu yang telah dinilai bersifat antidemokrasi untuk melakukan pemboikotan.

“Kalau menurut saya sih, tanggung memboikotnya. Banyak perusahaan yang mendukung hak-hak LGBT, bukan cuma Starbucks saja,” tegasnya.

Lantaran adanya seruan boikot Starbucks ini, Dede telah menyerahkannya kepada konsumen lantaran telah menyangkut soal bisnis dan selera pasar. “Ya konsumen bisa saja mengabaikan seruan boikot ini. Contoh lain, Apple yang CEO-nya, Tim Cook, gay (juga),” tuturnya.

REKOMENDASI : Trending: Polisi Akhirnya Tetapkan 10 Tersangka dalam Kasus Pesta Gay di Kelapa Gading!

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here