Kondom bukan alat kontrasepsi yang hanya dapat mencegah kehamilan, namun juga berguna untuk mencegah penularan berbagai macam penyakit seksual.



Tidak heran jika kemudian kondom adalah alat kontrasepsi paling populer. Bahkan bagi pekerja seks komersial pun saat ini sudah merupakan kewajiban untuk meminta pasangan pria menggunakan kondom. Sayang, banyak informasi seputar kondom yang belum dipahami.


Berbicara tentang fakta-fakta yang terdapat pada alat kontrasepsi ‘karet lentur’ ini dan memecahkan persepsi miring tentangnya.



Sejarah Penggunaan Kondom


Memang sampai saat ini masih belum ada kejelasan dari mana asal kata “kondom” itu lahir. Ada yang menduga berasal dari sebuah kota bernama Condom yang terletak di propinsi Gascony, sebelah barat daya Perancis.


Pendapat lain pun mengatakan bahwa kata kondom itu sendiri diambil dari nama Dr.Condom, yaitu seorang dokter berasal dari Inggris yang pertama kali memperkenalkan ‘corong karet’ ini untuk menutupi alat kelamin pada pertengahan 1600, sehingga dapat melindungi King Charles II dari penularan penyakit kelamin.


Gabriello Fallopia, seorang dokter dari Italia yang hidup di abad ke-17 yang dikenal sebagai ‘bapak kondom’, dikarenakan pada pertengahan tahun 1500 Ia membuat sarung linen yang berukuran pas di bagian Mr P dan melindungi permukaan kulit. Penemuan ini diuji coba pada 1000 pria dan sukses.


Kondom Karet


Sejarah memang telah mengenal kondom yang terbuat dari ‘karet alam’. Namun, kondom dari karet yang pertama-tama diproduksi ini sangat tebal, sehingga tak nyaman dipakai.


Baru setelah Goodyear dan Hancock berhasil menemukan proses vulkanisasi karet di tahun 1844, kondom dengan bahan karet dapat diproduksi secara masal, lebih elastis, lebih murah dan tidak terpengaruh perubahan suhu udara.


Kondom yang dibuat dari bahan karet tervulkanisir ini muncul pada tahun 1870. Pada masa itu, kondom karet sangat mahal dan tebal. Para pengguna disarankan untuk mencucinya sebelum dan setelah hubungan seksual.



Kondom Lateks


Kondom dari lateks pertama kali diproduksi pada tahun 1919 oleh Frederick Killian. Kondom jenis ini jauh lebih baik kualitasnya dibandingkan dengan kondom karet yang diproduksi sebelumnya, karena jauh lebih tipis, elastis, tidak berbau dan tidak cepat kadaluwarsa.


Kini, kondom lateks adalah jenis yang paling umum. Karena kondom jenis ini memiliki ketebalan 0,05 mm. Sebagai alat kontrasepsi KB, kondom yang terbuat dari lateks mempunyai tingkat kegagalan sebesar 3 persen. Tetapi angka ini meningkat menjadi sekitar 15 persen jika kondom tidak dipakai secara konsisten.


Kondom Polyurethane


Ini merupakan versi terakhir dari kondom. Bahannya yang lebih tipis dari lateks, lebih kedap dan anti bocor, serta memiliki pelumas. Kondom jenis baru ini dapat dianggap ideal untuk pria dan aman juga untuk perempuan yang alergi terhadap latek

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here