Cerita ini terjadi di suatu malam di bulan November 1998. Usai makan malam dengan menu utama nasi pecel, suatu permintaan penting disampaikan Soeharto kepada Adnan Ganto. Mantan penguasa Orde Baru yang baru enam bulan lengser itu ingin berjumpa dengan bekas anak buah kesayangannya, Benny Moerdani.

“Kamu atur ya, bawa dia kemari,” tutur Soeharto singkat.

Adnan mengungkapkan hal itu dalam memoar Keputusan Sulit Adnan Ganto yang ditulis Nezar Patria dan Rusdi Mathari. Buku itu diluncurkan Juli 2017 lalu di Banda Aceh. Adnan adalah penasihat keuangan Menteri Pertahanan sejak era Benny Moerdani hingga Purnomo Yusgiantoro (2009-2014), seperti disitir dalam Detik.com, Senin (28/8/2017).

Dalam buku tersebut, Adnan mengaku terkejut dengan permintaan Soeharto itu. Di sisi lain, ia juga senang karena bakal menjadi titik awal bagi Benny kembali berhubungan dengan mantan bosnya itu.

Baca juga: Menolak Jadi Gubernur Pertama Kalimantan, AA Hamidhan Pilih Profesi Wartawan

Benny menjadi anak buah Soeharto sejak memimpin Operasi Mandala untuk membebaskan Papua dari Belanda, 1962. Di kemudian hari, Soeharto selalu melibatkannya dalam sejumlah operasi militer dan intelijen. Sebut saja operasi Konfrontasi Ganyang Malaysia, 1964, Operasi Seroja di Timor Timur 1975, dan operasi pembebasan puluhan penumpang pesawat Garuda yang disandera di Bangkok, Thailand, 1981.

Karena memimpin semua lembaga intelijen di lingkungan ABRI, Benny dijuluki si ‘Raja Intel’. Dia menjadi orang intelijen satu-satunya yang menjadi panglima ABRI pada 1983 tanpa melalui jalur teritorial sama sekali.


Sepanjang karir militernya, Benny tak pernah menjadi Danrem maupun Pangdam. Namun pada 24 Februari 1988, beberapa hari menjelang Sidang Umum MPR 1988, Soeharto justru mencopotnya. Sejak itu, hubungan keduanya pun merenggang.


Pencopotan itu bermula dari sikap Benny yang menyampaikan hal tabu. Sambil menemani bermain biliard di Cendana, dia mengingatkan agar bosnya itu lebih tegas mengendalikan kiprah bisnis putra-putrinya. Begitu selesai berbicara demikian, Soeharto langsung meletakkan tongkat billiar dan meninggalkan Benny.

“Wah bapake ketoke nesu banget. Saya pasti selesai, hanya akan sampai di sini…,” keluh Benny kepada seniornya, mantan Pangkopkamtib Laksamana Sudomo seperti ditulis Julius Pour dalam Benny, Tragedi Seorang Loyalis.


Dua tahun sebelumnya di bulan Mei 1985, Kepala Badan Kepala Intelijen Negara Jenderal Yoga Sugama telah mengingatkan hal serupa. Kepada Soeharto dia meminta untuk tidak bersedia dipilih kembali sebagai presiden pada Sidang Umum MPR 1988. Selain karena faktor usia yang mulai sepuh (Soeharto berusia 67 tahun pada 1988), Soeharto terlampau lama menjadi presiden.

Hal lain yang mulai mengkhawatirkan yakni kiprah bisnis putra-putri sang presiden yang kian menggurita. Sepak terjang mereka di dunia bisnis amat rentan memicu kecemburuan sosial dan rentan menjadikan Soeharto sebagai sasaran tembak.

“Pak Yoga berjanji akan menjamin keamanan siapa pun pengganti Pak Harto,” ungkap Wiwoho yang menulis buku Memori Jenderal Yoga, melansir Detik.com, Senin (28/8/2017).

Ibu Tien, yang kebetulan melintas dan mendengar percakapan tersebut, sempat melontarkan persetujuan meski Soeharto lebih banyak diam menyimak. Tapi ada dua pejabat yang turut dalam pertemuan menentang keras saran Yoga. Dalihnya, rakyat masih menghendaki kepemimpinan Soeharto. Siapa kedua pejabat dimaksud?

“Pak Benny (Moerdani) dan Pak Dharmono (Sekretaris Negara Sudharmono) yang menentang keras saran Pak Yoga,” tutur Wiwoho.

Setelah pertemuan Mei 1985 tersebut, hubungan Yoga dengan Soeharto menjadi dingin. Padahal setiap Jumat malam, Yoga biasa menghadap Soeharto. Sejak pertemuan itu, dia tak lagi mau ke Cendana bila tak diminta.

Benny sedikit beruntung. Berkat lobi Sudomo kemudian, dia ternyata masih masuk dalam jajaran kabinet periode 1988-1993.

“Saya tahunya kembali dijadikan menteri ya baru sesudah mendengar pengumuman di radio. Sebab, saya sudah tidak pernah dihubungi Pak Harto, juga tidak lewat telepon sejak saya tak lagi menjadi Panglima ABRI,” tutur Benny seperti ditulis Julius Pour.

Meski tetap dilibatkan di kabinet, tapi hubungan Soeharto dan Benny tak lagi dekat seperti sebelumnya. Keduanya jarang berkomunikasi.

“Seperti ada gap,” ujar Siti Hardiyanti Rukmana, putri sulung Soeharto, dalam buku Keputusan Sulit Adnan Ganto.

Tak lama setelah pertemuan disertai makan malam itu, Adnan segera menghubungi Benny dan menjelaskan ikhwal permintaan Soeharto. Pertemuan bersejarah nan menggetarkan itu pun berlangsung di Cendana. Mungkin karena sudah bertahun-tahun tak saling berkomunikasi, di awal pertemuan Adnan menggambarkannya malam itu sempat canggung.

Hingga kemudian sang Jenderal Besar melontarkan sebuah pengakuan kepada anak buah kepercayaan yang pernah disingkirkannya.

Baca juga: Foto-foto Liburan Bill Gates dan Keluarga: Jadi Orang Terkaya Sedunia, Kok Nggak Mewah?

“Ben, aku salah. Aku tidak mendengarkan omonganmu,” imbuh Soeharto.

Benny hanya bisa menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here