Merujuk ke Minimum Essential Force (MEF), harapan untuk menjodohkan rudal anti kapal sebagai sistem senjata di kapal selam Nagapasa Class terasa amat berat. Namun, tahukah Anda, bahwa di tahun 1962 justru ada kapal selam milik Indonesia yang pernah melontarkan rudal anti kapal, bahkan kelasnya jauh diatas UGM-84 Harpoon atau SM39 Exocet, yakni sosok alutista yang masuk segmen rudal jelajah (cruise missile) SS-N-3c Shaddock. Kapal selam yang dimaksud adalah KRI (d/h RI) Alugoro-406, salah satu dari 12 unit kapal selam Whiskey Class yang didatangkan dari Uni Soviet dalam kampanye Operasi Trikora. Bukan sebatas dibeli, tapi rudal berbobot 5 ton ini bahkan pernah diuji tembak.
Merujuk ke sejarah, KRI Alugoro-406 menjadi bagian terakhir dari paket pengiriman Whiskey Class dari Uni Soviet. Dalam gelombang akhir tersebut, KRI Alugoro-406 didatangkan bersama dengan KRI Wijayadanu409, KRI Hendrajala-405, KRI Bramastra-412, KRI Pasopati-410, dan KRI Cundamani-411 Sementara dalam buku “Kapal Selam Indonesia” yang ditulis Indroyono Soesilo dan Budiman, diperlihatkan foto hitam putih saat KRI Alugoro-406 melepaskan rudal anti kapal ke udara. Namun berbeda dengan Harpoon dan Exocet, rudal anti kapal jenis SS-N-3c Shaddock dilepaskan dari atas deck kapal, dan hanya bisa dilakukan saat kapal selam berada di permukaan. Sayangnya dalam buku tersebut tidak dijelaskan lokasi dan waktu persis uji tembak dilakukan. Namun besar kemungkinan, rangkaian uji coba rudal terkait dengan psy war Indonesia kepada pemerintah Belanda.


Seperti apakah sosok rudal SS-N-3c Shaddock? Dengan bobot 5,4 ton bisa dipastikan dimensi rudal ini lebih menyerupai jet tempur ringan. Rudal ini sanggup menerjang sasaran sejauh 400 – 750 km dengan kecepatan Mach 0.9 (High Subsonic). Untuk urusan hulu ledak, Belanda dan Amerika Serikat layak dibuat cenat cenut, rudal yang diciptakan dalam suasana Perang Dingin ini mampu membawa hulu ledak nuklir 350 kiloton, sedangkan bila dimuati hulu ledak high explosive konvesional bisa sampai 1 ton. Dari rancangannya, rudal ini memang disasar untuk menembus lapisan pertahanan pantai di wilayah AS, mengkaramkan kapal penjelajah dan kapal induk.


Lantas yang menarik adalah sistem pemandu yang dipakai adalah terminal active radar homing yang dipadukan dengan inertial guidance via datalink. Selain dilepaskan dari kapal selam, varian rudal ini juga dirancang untuk dilepaskan dari kapal permukaan. SS-N-3c mengadopsi sayap lipat, alhasil rudal gambot ini dapat dimasukkan ke dalam silinder khusus dengan diameter yang relatif kecil, dan disematkan pada deck kapal selam. Whiskey Class dikenal sebagai salah satu platform pengusung rudal ini. Ada tua tiga tipe Whiskey Class untuk membawa SS-N-3c Shaddock, yaitu Whiskey Single Cylinder, Whiskey Twin Cylinder dan Whiskey Long Bin. Khusus untuk Long Bin ada perubahan fundamental pada conning tower, besar kemungkinan KRI Alugoro-406 mengadopsi Whiskey Single Cylinder. Selain Whiskey Class, generasi kapal selam Uni Soviet yang lebih modern juga dipercaya sebagai peluncur rudal ini, seperti Juliett class dan Echo class. Sedangkan untuk kapal permukaan, diusung oleh kapal penjelajah Kynda class dan Kresta I class.


Dilihat dari spesifikasi, SS-N-3c Shaddock punya panjang 11,75 meter dan diameter 0,98 meter. Lebar bentang sayap keseluruhan mencapai 5 meter. Perancang rudal ini adalah Vladimir Chelomey dan pertama kali digunakan militer Soviet pada tahun 1959. Serupa tapi tidak sama, AS juga punya rudal jelajah/anti kapal yang mirip SS-N-3c Shaddoc, yakni SSM-N-8 Regulus, rudal berukuran jumbo ini juga dapat dilepaskan dari kapal selam (saat di permukaan), punya jarak jangkau hingga 926 km, rudal ini mampu membawa hulu ledak hingga 1,4 ton. Seperti terlihat dalam foto dibawah ini, Regulus saat diluncurkan dari kapal selam USS Tunny pada tahun 1958.


Selain SS-N-3c, di era 60-an TNI AL juga pernah mengoperasikan rudal anti kapal Styx yang dipasang pada KCR (Kapal Cepat Rudal) Komar Class. Styx dirancang dengan kemampuan dan daya hancur tinggi, tak ayal Styx memang punya daya deteren amat tinggi di era tersebut. Indikatornya bisa dilihat dari berat hulu ledaknya yang mencapai 500 kg high explosive, sementara bobot rudal secara keseluruhan 2.340 kg dengan jangkauan efektif mencapai 40 km, meski dalam teorinya bisa mencapai jarak 80 km. (Gilang Perdana)



sumber : www.indomiliter.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here