ular berbisa

Di perkotaan, keberadaan ular terbilang tidak cukup banyak karena bukan habitatnya. Namun tetap saja ada satu-dua ular yang bertahan hidup di lingkungan tidak semestinya. Kebanyakan orang tidak menyenangi hadirnya ular. Alasan klasiknya, mereka memiliki racun mematikan yang dapat membunuh seketika saat tergigit.

Jumlah ular berbisa sebenarnya lebih sedikit ketimbang yang tidak. Namun memang perlu diwaspadai bisa ular tersebut. Untuk di Indonesia setidaknya ada tujuh jenis bisa ular yang sudah diidentiifikasi. Racun tersebut terdiri dari neurotoksin, hemotoksin, kardiotoksin, nefrotoksin, sitotoksin, nekrotoksin, dan miotoksin.

Dokter Tri Maharani, M.Si SP.EM, pakar gigitan ular dan toksikologi, mengemukakan jika racun-racun tersebut memiliki reaksi berbeda pada tubuh. Jenis ular yang membawanya pun berlainan, termasuk endemiknya. Contohnya racun neurotoksin adalah salah satu jenis bisa yang dibawa ular king kobra, ular laut, ular-ular berbisa di Papua, dan ular weling.

“Semua ular di Papua masuk jenis neurotoksin,” kata Tri seperti dikutip dari laman Intisari.

Reaksi racun ular beragam. Hematoksin misalnya, akan merusak sel darah merah dan biasa dibawa oleh ular tanah, ular hijau berekor merah, dan ular picung. Racun kardiotoksin yang biawa ular laut dan king kobra dapat menyerang jantung dengan cepat.

Nefrotoksin dari ular Bandotan Puspo akan merusak ginjal. Racun sitotoksin menyerang sitoplasma yang juga dibawa oleh ular kobra dan ular tanah. Lantas racun miotoksin akan menyerang sel otot dan dibawa ular laut.

Keadaan korban yang tergigit ular berbisa mengalami keparahan tergantung dari jenis ular yang menyerangnya dan jumlah racun yang masuk ke tubuh. Sebuah ular bisa membawa jenis racun lebih dari satu.

 “Ada jenis ular yang isi racunnya banyak. Misalnya seperti kobra. Dia punya nekrotoksin, neurotoksin, dan vitotoksin. Tentu beda dengan bisa ular hematoksin saja,” tutur Tri.

Pertolongan pertama yang benar terhadap gigitan ular berbisa, sangat menentukan kehidupan korban. Mengikat anggota tubuh atau menyobek kulit hingga darah keluar, ternyata bukan langkah tepat. Justru korban sebaiknya tidak banyak menggerakkan anggota tubuh yang tergigit seperti pada pasien patah tulang. Dengan begitu akan punya cukup waktu sampai memperoleh anti-bisa ular dari rumah sakit.

 “Waktu untuk mendapatkan anti-bisa tak masalah lagi. Anak teman saya di Papua dia kena neurotoksin. Karena tinggal di base camp di atas gunung, untuk turun ke Puskesmas butuh 2 hari. Anak ini selamat dengan imobilisasi. Masih hidup sampai sekarang,” kata Tri.

Sementara itu kalau tempat atau klinik kesehatan setempat tidak tahu jenis ular yang menyerang, dapat menghubungi Remote Envenomation Consultan Service (RECS) yang punya blog di recsindonesia.blogspot.com. Atau, dapat pula segera menghubungi via pesan Whtasapp ke nomor 085334030409.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here