Peringatan satu tahun “Aksi 411” diadakan di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan, Sabtu (4/11/2017) subuh. Meski telah diundang secara resmi, namun Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan beserta Wakil Gubernur Sandiaga Uno tak terlihat hadir. Hal ini membuat Eggi Sudjana selaku penasihat Alumni Presidium 212 kecewa. Ia lantas menyebutkan bahwa Anies-Sandi tidak mungkin menang dalam Pilkada DKI Jakarta tanpa bantuan demonstran.

Presidium 212 merupakan sebutan bagi pimpinan kelompok yang menggelar demonstrasi dalam menuntut polisi mempercepat proses hukum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) atas dugaan penistaan agama pada 2 Desember 2016 lalu. Kemenangan Anies-Sandi memang tak bisa dilepaskan begitu saja dari sejumlah manuver kelompok ini. Contohnya sewaktu mereka menggelar Tamasya Al-Maidah dan mendatangi TPS pada hari pencoblosan dalam rangka “pengamanan” suara.

Selain itu, langkah taktis lain seperti turut serta dalam proses kampanye serta demonstrasi juga terjadi. Sementara partai yang mengusung Anies-Sandi ketika itu, PKS dan Gerindra, menurut Eggi tidak membantu banyak. Demikian seperti dikutip dari reportase Tirto.id, Minggu (5/11/2017).

“Yang bantu dia cuma umat, partai-partai nggak bisa,” ungkap Eggi.

Pendapat Eggi, Anies-Sandi masih tetap perlu terus mengingat jasa-jasa dan berhubungan baik dengan kelompok pendukungnya ini—bahkan meski pun setelah mendapatkan kemenangan.

“Jangan seperti kacang lupa kulitnya… Jangan belagu pokoknya,” tutur Eggi.

Konteks pernyataan ini menyiratkan jelas kekecewaan yang dilontarkan Eggi ketika Anies Baswedan tidak menghadiri peringatan satu tahun “Aksi 411” di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan, Sabtu (4/11/2017) subuh kemarin. Padahal menurutnya, pasangan politik tersebut telah diundang secara resmi.


“Tidak ada kabar, gak bilang bisa apa nggak. Itu yang kami kecewa,” imbuh Eggi.

Aksi 411 tidak berdiri sendiri dalam menuntut polisi mempercepat penahanan Ahok. Terjadi juga beberapa demonstrasi lain seperti Aksi Bela Islam Jilid I pada 14 Oktober 2016 dan Aksi 212—yang kemudian melahirkan istilah ‘Alumni 212’ sebagai penanda bagi mereka yang pernah ikut berdemonstrasi.

Terlepas dari adanya kesan pamrih, namun Eggi meyakinkan publik bahwa Presidium 212 mendukung Anies-Sandi dengan ikhlas, tanpa menuntut balasan apapun.

“Tidak ada kontrak,” sebut Eggi yang secara tidak langsung merujuk ke kelompok buruh pendukung Anies-Sandi karena pasangan ini bersedia menandatangani kontrak politik.

“Kami dukung dia ikhlas. Kami melihat umat islam melawan non-muslim,” jelas Eggi.

Eggi mengungkapkan, selain indikasi bahwa mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini mulai lupa jasa-jasa pendukungnya, juga jadi bukti bahwa dirinya tidak dihormati sebagai salah satu “kanda” di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

“Anies itu junior saya di HMI,” tegas Eggi.

Eggi melanjutkan, kekecewaan ini harus diperhatikan betul. Sebab meski mengaku bahwa untuk saat ini Presidium 212 tetap mendukung Anies-Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, namun bukan tidak mungkin dukungan ini akan dicabut.

“Cuma mengingatkan saja. Tapi kalau dia mengulanginya lagi, barangkali bisa berubah (dukungan) kita. Makanya kami kasih peringatan,” ungkap Eggi.

Eggi juga melontarkan bahwa sebaiknya ke depan tidak ada lagi kesulitan bagi Presidium 212 untuk berhubungan dengan Anies-Sandi.

Dihubungi terpisah, Naufal Firman Yursak selaku juru bicara Anies Baswedan enggan menjawab soal ancaman pencabutan dukungan ini. Naufal juga enggan menanggapi relasi Anies-Sandi dengan Presidium 212. Ia hanya menuturkan bahwa Anies tidak datang karena memang tidak tahu.

“Tidak dapat pemberitahuan. (Undangan yang masuk) bukan 411,” demikian Naufal menjelaskan sambil melampirkan undangan lain di jam dan hari yang sama dengan peringatan satu tahun Aksi 411.

Di luar konteks pengundangan dan ketidakhadiran Anies, pernyataan Eggi ini kontradiktif dengan semua alasan yang sempat dilontarkan pimpinan-pimpinan demonstran yang sibuk berkilah bahwa aksi hingga berjilid-jilid itu sama sekali tidak berkaitan dengan Pilkada DKI.

Sebut saja Munarman, juru bicara GNPF MUI yang juga juru bicara Front Pembela Islam (FPI). Dirinya pernah mengungkapkan dalam laman Tirto.id di awal September tahun lalu bahwa “Aksi ini (411) tidak ada kaitannya dengan Pilkada (DKI Jakarta).”

Sementara itu, salah satu ulama yang ikut berdemo, Aa Gym, dalam sebuah forum kajian, mengungkapkan bahwa aksi yang dilakukannya benar-benar digerakkan oleh hati nurani. Pemilik pesantren Daarut Tauhiid ini membantah adanya pendanaan dari pihak-pihak tertentu.

Joko Widodo, Prabowo Subianto, dan SBY merupakan “tokoh besar” di balik tiga pasangan kontestan peserta Pilkada DKI Jakarta. Jokowi di belakang pasangan Ahok-Djarot yang didukung PDI Perjuangan, Prabowo di belakang Anies-Sandi yang didukung Gerindra, dan dukungan SBY kepada pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here