Pengamat politik Arbi Sanit mengeluarkan pernyataan mengejutkan terkait dengan kekalahan pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat di Pilkada DKI 2017. Menurutnya, ada peran dari organisasi Saracen dalam kegagalan Ahok-Djarot kembali menjadi pemimpin DKI untuk periode kedua tersebut.

Seperti dilansir dari Netralnews.com, Arbi menduga bahwa dalam hal ini Saracen berperan dalam menyebarkan berbagai informasi kebencian, isu SARA dan berita hoaks melalui dunia maya dan media sosial.

“Karena di Pilkada DKI itu kan hoax banyak sekali, dengan sendirinya Saracen ini terlibat. Banyak sekali orang yang pingin mengembalikan kekuasaan dari Ahok kepada lawannya,” kata Arbi, Rabu (30/8/2017).

Arbi mencontohkan, beberapa produk settingan Saracen bisa jadi digunakan oleh pihak – pihak yang tidak ingin Ahok kembali jadi gubernur, demi menjauhkannya dari para pemilih.

“Jadi saya kira mungkin sebagian besar kabar negatif adalah produk Saracen. Karena hoax yang tampil pada waktu itu memburuk-burukan Ahok dan pemerintah, juga pembangunan-pembangunan Jakarta. Itu banyak sekali di medsos-medsos ya,” ujar Arbi.

Arbi menilai, informasi salah atau hoaks yang diseberkan tersebut terkait dengan isu agama, sehingga banyak orang akhirnya takut memilih Ahok-Djarot.

“Berisi fitnah, fitnah berdasarkan agama menjadikan pemilih takut. Misalnya berdosa memilih Ahok, berdosa dipimpin orang kafir, berdosa dipimpin pemerintahan kafir, dan ini-itu menyebabkan ketakutan-ketakutan kepada pemilih,” sambungnya.

Lebih lanjut ia mengemukakan pendapat, praktek seperti yang dilakukan Saracen, dengan menjual berita hoaks dan isu SARA di ibukota ternyata sangat sukses. Hal itu dibuktikan lewat hasil pilkada lalu, dumana Ahok-Djarot yang diputaran pertama menang, ternyata justru kalah dari Anies-Sandiaga. Padahal selama ini tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja Ahok-Djarot sangat bagus.

“Kan di atas 60% pemilih itu berterima kasih kepada Ahok karena keberhasilannya tapi kenapa yang memilih tinggal 30%, kemana larinya 30% itu. Itu karena hoax yang berisi fitnah-fitnah yang mengait-ngaitkan dosa apabila memilih Ahok,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, aparat kepolisian meringkus tiga orang sindikat Saracen, yakni JAS (32), MFT (43) dan SRN (32). Kelompok ini diduga menggunakan media sosial untuk menyebarkan ujaran kebencian berkonten SARA.

Saracen dalam menjalankan aksinya, sesuai pesanan dengan tarif yang sudah ditentukan. Adapun akun media sosial yang digunakan Saracen antara lain di Grup Facebook Saracen News, Saracen Cyber Team, situs Saracennews.com, dan beberapa akun lainnya.

Kelompok ini disebut-sebut telah eksis sejak November 2015. Hingga saat ini diketahui jumlah akun yang tergabung dalam jaringan Grup Saracen lebih dari 800.000 akun.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here