Center for Strategic International Studies (CSIS) menyebutkan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki elektabilitas yang terus naik dalam waktu tiga tahun terakhir.

Terkait hasil survei tersebut, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan menilai wajar jika elektabilitas Jokowi mencapai 50,9 persen.

Menurutnya, capres petahana memang memiliki eletabilitas yang cenderung lebih tinggi dibanding calon yang lain. Hal ini berkaitan dengan penilaian masyarakat terhadapnya.

“Iya biasanya memang incumbent trennya kemungkinan gampang untuk naik dan gampang untuk turun. Jika kinerjanya, responnya kurang bagus dia akan turun lagi,” tutur Syarief di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (13/9/2017), dilansir jpnn.com.

Syarief mengatakan, kinerja petahana cenderung lebih mudah untuk dideteksi karena ada parameter yang bisa dinilai. Meski begitu, ia tak bisa memastikan apakah peningkatan elektabilitas Jokowi mampu membantunya meraih kemenangan di Pilpres 2019.

Syarief kemudian membandingkan elektabilitas Jokowi dengan elektabilitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika akan maju dalam Pilpres periode kedua.

Menurutnya, jika elektabilitas sebelum masa kampanye dimulai berada di atas 60 persen, maka kemungkinan akan menang lagi besar. Namun, jika elektabilitasnya masih dibawah 60 persen, akan sulit menjamin kemenangan di periode kedua.


“Kita lihat saja nanti hasil surveinya. Waktu SBY, kala itu elektabilitasnya sampai 60 persen. Pada dasarnya kalau 60 persen kemungkinan bisa terpilih lagi. Tetapi kalau dibawah 60 persen agak rendah,” terang Syarief.

Syarief menambahkan, elektabilitas Jokowi yang cenderung naik ini bisa menurun karena penilaian masyarakat atas kinerjanya sebagai presiden.

“Itu tergantung kinerjanya. Kalau kinerjanya bagus naik. Tapi kalau kurang bisa juga turun,” pungkasnya.

Sebelumnya, Peneliti Departemen Politik dan Hubungan Internasional CSIS, Arya Fernandes, menyebut bahwa elektabilitas Jokowi naik sembilan persen dari tahun sebelumnya.

Sementara itu, Prabowo Subianto menyusul di urutan kedua dengan elektabilitas 25,8 persen di tahun 2017 ini. Hasil survei ini bisa menyimpulkan bahwa Pilpres 2019 nanti akan menjadi wadah tanding ulang bagi Jokowi dan Prabowo.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here