Tanpa terasa sistem MANPADS (Man Portable Air Defense System) RBS-70 sudah menginjak usia 40 tahun. Sejak pertama kali digunakan pada tahun 1977 oleh AD Swedia, hingga kini sudah lebih dari 1.600 sistem MANPADS RBS-70 digunakan di 19 negara dengan 18 ribu rudal yang telah diproduksi, seperti Indonesia yang masih mengandalkan satu baterai (9 pucuk) RBS-70 pada Yon Arhanudri 2 Kostrad di Malang, Jawa Timur.


Dan ditengah kompetisi yang kian ketat di segmen MANPADS, RBS-70 toh masih sukses menuai order yang signifikan, seperti yang paling baru pada Meret 2017 lalu, AD Brasil yang kembali memesan 9 pucuk RBS-70 senilai MSEK105 atau setara US$12,4 juta yang akan diterima tahun depan.


Oleh manufakturnya, yakni Saab Bofors Dynamics (d/h Bofors Defence), RBS-70 dirancang sebagai sistem hanud yang rendah dalam penggelaran biaya operasional, mudah dalam penggunaan dan efektif dioperasikan untuk misi VSHORAD (Very Short Range Air Defence). Meski berstatus MANPADS seperti halnya QW-3 dan Stinger, namun RBS-70 tak bisa ditembakkan dengan cara dipanggul. Sistem RBS-70 dioperasikan menggunakan platform tripod stand. Penggunaan tripod memberi keunggulan pada stabilisasi awak saat melakukan firing. Jejak penggunaan tripod di kemudian hari ditiru oleh MBDA dengan merilis Mistral dan LIG Nex1 yang meluncurkan rudal Chiron.


Meski tak ditembakkan dengan cara dipanggul, RBS-70 terbukti sebagai solusi hanud yang sukses. Gelar sistem ini dapat diurai, dan komponennya dapat dibawa oeh tiga pasukan dengan cara backpack. Dengan modal pemandu laser, RBS-70 jelas sangat sulit dikecoh. Pengecohan dengan flares atau chaff sama sekali tak berguna untuk menahan terjangan RBS-70, keduanya hanya efektif mengecoh radar penjejak dan tak mengganggu pancaran laser yang dibidik secara manual.


Setelah 40 tahun eksistensi RBS-70, memahami evolusi teknologi rudal ini menjadi sesuatu yang menarik, terlebih ada Athanud TNI AD yang masih mempercayakan penggunaan RBS-70 ‘tua’ sebagai lini garis depan sistem hanud di Indonesia. Secara faktual, meski kini sudah ada rudal yang lebih baru di arsenal Arhanud TNI AD, seperti Mistal dan Starstreak, namun tingkat kesiapan tempur baterai RBS-70 menjadi yang terdepan, terbukti dengan suksesnya beberapa kali uji tembak rudal ini, dan tentunya dukungan logistik dan awak yang telah terlatih.


Selain evolusi pada aspek rudal, mulai dari seri MK0, MK1, MK2 hingga yang paling mutakhir Bolide, sistem peluncur (launcher) RBS-70 juga mengalami evolusi yang signifikan. Indonesia tercatat sebagai pengguna dua seri RBS-70, yakni rudal MK-1 yang dibeli tahun 1982 dan rudal MK-2 yang dibeli tahun 1989. Peningkatan dari MK-1 ke MK-2 menawarkan jarak tembak yang lebih jauh, serta ketinggian meluncur lebih tinggi. Rudal seri MK-1 kini tak lagi digunakan, namun MK-2 masih beroperasi penuh, bahkan sukses menghajar target drone di Baturaja bulan Agustus lalu.



Sementara dari elemen peluncur, evolusinya ditandai dengan label ‘Generation.’ Yang seperti terlihat dalam infografis, peluncur RBS-70 yang digunakan Indonesia adalah Generation 2 dan Generation 3. Perubahan mendasar ditawarkan Bofors pada Generation 3 yang mengusung Clip-On Night Device (COND) and Battlefield Management Terminal. Pada Generation 2 sistem sight masih menggunakan pendingin berupa freon.



Baru pada Generation 4 yang dirilis tahun 2002, sistem sight tidak lagi menggunakan freon. Di Generation 4 Saab Bofors melakukan pembaharuan pada simulator. Sight RBS-70 juga dilengkapi BORC Thermal Imager, Digital IFF Interrogator, Target Data Receiver dan external power supply. Di Generation 4 juga rudal yang dipasang adalah seri Bolide, seperti yang digunakan Australia dan Brasil.


Dan yang terakhir adalah RBS-70 NG, masih mengandalkan rudal Bolide, sistem sight di modernisasi dengan Tracking Illuminator System (TIS) dan autotracker. Dalam paket RBS-70 NG yang ikut dipamerkan di Indo Defence 2016, Saab menghadirkan simulator terbaru.




RBS-70 yang saat ini dioperasikan satuan Arhanud TNI AD (Generation 3) dapat di-upgrade menjadi Generation 4 dengan melakukan perubahan pada stand dan sight sehingga dapat digunakan untuk menembakkan rudal Bolide. Namun RBS-70 NG memiliki sight yang sangat berbeda dengan Generation 4 sehingga RBS-70 TNI AD tidak dapat di-upgrade menjadi RBS-70 NG.


Untuk menjamin tingkat kesiapan tempur, rudal MK-2 RBS-70 TNI AD telah menjalani program LTE (Lifetime Extend). Sebagai mitra Saab dalam proyek LTE ditunjuk BUMN Strategis PT Pindad. Standar normal lifetime rudal RBS-70 MK2 adalah 30 tahun. Akan tetapi untuk menjamin kinerja optimal, pada tahun ke-15 perlu dilakukan LTE agar masa 30 tahun dapat dicapai.


Dengan pengawak yang telah terbiasa menggunakan sistem RBS-70, maka besar kemungkinan varian RBS-70 NG dengan rudal Bolide, plus radar Giraffe 1x dapat menggantikan RBS-70 Generation 3, rudal MK-2 untuk TNI AD dan radar Giraffe 40 yang kini masih digunakan. (Haryo Adjie)


Sumber: Indomiliter.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here