Loading...
Berita

Akankah ‘Kutukan’ Nomor 1 Pilkada DKI Berulang ke Daerah Lain?


Nomor urut bagi sebagian calon kepala tak menjadi persoalan serius. Bahkan, mungkin mereka tak memiliki simbolisasi tertentu mengenai nomor-nomor itu. Namun, ada juga yang mengaitkan nomor urut 1 sebagai nomor juara, nomor kemenangan. Sedangkan yang dapat nomor urut 2 tak mau kalah. Nomor 2 itu, jika disimbolkan dengan acung dua jari artinya victory (kemenangan). Kemudian nomor urut 3 adalah nomor keramat dan lain sebagainya.


Tetapi, berdasarkan pengalaman DKI Jakarta, nomor urut 1, belum pernah memenangkan kontestasi Pilkada sejak 2007.
Saat Pilkada DKI tahun 2007 pasangan yang bertarung memperebutkan kursi DKI-1 hanya ada dua pasang. Pertama, pasangan petahana Fauzi Bowo yang berpasangan dengan Prijanto melawan Adang Daradjatun–Dani Anwar.


Meski sempat terjadi ‘kericuhan’ ketika pengambilan nomor urut karena pasangan Adang–Dani tidak hadir. Mereka memperoleh nomor satu, tapi diprotes kelompok Fauzi–Prijanto karena ketidakhadirannya.
Pendukung Foke–Prijanto meminta nomer urut satu diberikan kepada mereka. Karena nomor satu diidentikkan dengan kemenangan. Tapi panitia, tak mengabulkan Fauzi Bowo-Prijanto dan tetap memegang nomor urut 2.


Hasilnya, pasangan Adang Daradjatun dan Dani Anwar nomor urut 1 yang hanya diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera menelan kekalahan. Mereka hanya bisa mendulang suara sebanyak 1.535.555 (42,13 persen).
Sebaliknya, Fauzi Bowo dan Prijanto yang didukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Demokrat (PD), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golkar, Partai Damai Sejahtera (PDS), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI), Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PPDK), Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI), Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD), Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB), Partai Merdeka, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Daerah (PPD), Partai Patriot Pancasila, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), dan Partai Pelopor ini meraih suara 2.109.511 (57,87 persen)

Baca Juga:  Bisa Rusuh, Deklarasi Ganti Presiden di Surabaya, Minggu Besok

Lantas bagaimana dengan Pilkada 2012?


Pilkada DKI 2012 kembali menghadirkan kesialan bagi nomor urut 1. Kali ini giliran Foke atau Fauzi Bowo yang kena ‘kutukan’ nomor urut 1 . Berpasangan dengan Nachrowi Ramli dia dikalahkan oleh Joko Widodo yang berpasangan dengan Ahok.


Padal Pilkada DKI 2012 lebih semarak. Ada enam calon pasangan gubernur dan wakil gubernur yang maju ke Pilkada. Empat pasangan diusung oleh partai politik dan dua pasangan berasal darì calon independen.


Sesuai dengan nomor urut, nomor satu adalah pasangan Fauzi Bowo (Foke)–Nachrowi Ramli (Nara) yang didukung oleh Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Matahari Bangsa (PMB), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU).
Nomor urut 2 dari jalur independen Hendardji Soepandji – Ahmad Riza Patria.
Nomor urut 3 adalah pasangan Joko Widodo (Jokowi)– Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang didukung oleh Partai Demokrasi Indonesia (PDIP) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
Nomor urut 4 adalah pasangan Hidayat Nur Wahid – Didik J. Rachbini yang didukung oleh Partai Keadilan Sejahtera.
Nomor urut 5 dari jalur independen, pasangan Faisal Batubara – Biem Trijani Benyamin. Kemudian nomor urut 6 adalah pasangan Alex Noerdin dan Nono Sampono (didukung oleh Partai Golongan Karya (Golkar) Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Damai Sejahtera (PDS), Partai Patriot (PP), Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), Partai Kasih Demokrasi Indonesia (PKDI), Partai Republika Nusantara (RepublikaN), Partai Perjuangan Indonesia Baru (PPIB), Partai Buruh, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI), Partai Nasional Indonesia Marhaenisme (PNI Marhaenisme).
Putaran pertama Pilkada DKI 2012 ternyata tidak menghasilkan pasangan yang meraup prosentase 50 persen plus satu. Hitung cepat (quick count) versi Lembaga Survei Indonesia (LSI) menghasilkan: Foke-Nara (34,42%), Hendardji-Riza (1,85%), Jokowi-Ahok (42,85%), Hidayat-Didik (11,80%), Faisal-Biem (4,75%), dan Alex-Nono (4,41%).

Baca Juga:  Pesan Jaksa Agung Kepada 12 Kajati

Dua pasangan teratas maju ke putaran kedua, yakni pasangan Fauzi Bowo- Nachrowi Ramli dan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama
Pada putaran kedua, Foke- Nachrowi yang tetap menggunakan nomor urut satu kalah dari pasangan nomor urut 3 Jokowi- Ahok. Perolehan suara berturut-turut 2.120.815 (46,18%) dan 2.472.130 (53,82%).


Bagaimana Pilkada DKI 2017?


Kutukan nomer urut 1 kembali terulang. Saat pengundian nomor urut di KPU DKI Jakarta, nomor urut 1 jatuh pada pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni. Pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat mendapat nomor urut 2 dan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno mendapat nomor urut 3. Hasilnya Agus-Sylvi mendapat perolehan suara 17,37%, Ahok-Djarot 42,97% dan Anies-Sandi 39,76% sehingga pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi maju ke putaran kedua karena tidak ada yang memperoleh 50 persen plus 1.


Nah, entah ini karena ‘kutukan’ atau apa. Ketika Ahok- Djarot berada pada posisi nomor urut satu dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, berada pada nomor urut dua, perolehan suara Anies-Sandiaga mencapai 57,96 persen suara mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat yang memeroleh 42,04 persen suara.


Tentu saja faktor nomor urut bukan faktor penentu. Terlalu gegabah memprediksi hasil Pilakada berdasarkan nomor urut saja.
Bagaimanapun juga, kerja-kerja tim pemenangan tak bersandar pada hal-hal yang sifatnya mitos, apalagi mistik. Ada sejumlah alasan rasional yang bisa dipetik dari tiga kejadian Pilkada tadi.


Pengamat Politik Burhanudin Muhtadi mengatakan nomor 1 memang erat kaitannya dengan predikat juara. Namun, dalam kontestasi pilkada, pasangan nomor urut 1 justru jarang menang.


Menurut dia, berapa pun nomor yang didapatkan setiap calon tidak ada kaitannya dengan faktor keberuntungan. Nomor yang paling diingat memudahkan tim di belakang calon untuk membentuk citra. Jadi, kita tunggu saja hasilnya, apakah kutukan nomor urut 1 DKI itu merembet ke daerah lain. (rot)

Loading...

About the author

Citra

You are what you read! Ungkapan itu membuat kami ingin menyajikan berita tulisan yang sesuai dengan jati diri Anda. Selamat membaca dan silahkan berkomentar...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.