Bila Anda ingat, pertengahan 2017 lalu, drone Schiebel Camcopter S-100 buatan Austria telah melakukan unjuk kebolehan dihadapan Panglima Komando Armada Barat (Pangarmabar) di kawasan Barelang, Batam. Dalam beberapa pemberitaan kala itu menyebut Pangarmabar Laksamana Muda TNI Aan Kurnia tertarik dan ingin menjajaki pengadaan helikopter drone intai tersebut.

Dan hampir selang setahun kemudian, kini diwartakan Singapura telah masuk dalam fase sea trial S-100 dari korvet Littoral Mission Vessels (LMVs) Independence Class – RSS Sovereignty. Tetangga di Selatan Indonesia, Australia pun nyatanya kini menjadi pengguna baru S-100.

Baca juga: TNI AL Lirik Schiebel (Rajawali) S-100, Apa Saja Keunggulan Naval Drone Asal Austria Ini?

Pada akhir April 2018, AL Australia (RAN) telah merampungkan keseluruhan uji unmanned aerial system S-100 pada level shipborne evaluations di HMAS Albatross. Selama uji verifikasi oleh AL Australia, S-100 dengan bahan bakar JP-5 melaksanakan penerbangan sejauh 60 nautical mile (111,2 km) pada ketinggian 3.048 meter. Payload yang dibawa S-100 AL Australia adalah Wescam MX-10.

Bagi Singapura dan Australia, gelar drone sebagai bagian integral dari sistem kapal perang bukan sesuatu yang baru. Kedua negara sahabat Donald Trump ini sama-sama mengandalkan shipborne rotor wing UAS dari jenis Boeing ScanEagle yang bersayap tetap. Indonesia rencananya juga akan mendapatkan hibah ScanEagle dari Amerika Serikat.

RSS Sovereignty

Sementara untuk drone copter dengan kemampuan intai maritim, sebenarnya juga sudah dirintis pengadannya oleh Kementerian Pertahanan, terbukti dengan adanya unit drone Saab Skeldar V-200 milik Balitbang Kemhan. Namun sayang, sampai saat ini drone canggih tersebut belum pernah diuji cobakan ke pihak penggunanya, yakni TNI AL.

Meski resminya adalah UAV (Unmanned Aerial Vehicle), namun Schiebel S-100 dapat pula menjadi UCAV (Unmmaned Combat Aerial Vehicle), artinya drone helikopter ini dapat melaksanakan misi tempur. Dengan berpatokan pada kapasitas payload 50 kg, maka drone ini dapat di setting untuk membawa dua unit rudal, yakni LMM (Lightweight Multirole Missile) produksi Thales Air Defence.

LMM punya bobot 13 kg dengan berat hulu ledak 3 kg. Rudal udara ke permukaan ini menggunakan hulu ledak berfragmentasi dan mampu melesat dengan kecepatan Mach 1.5. Dengan two-stage solid propellant motor buatan Roxel Propulsion Systems (RPS), rudal ini dapat melesat sejauh 8 km dengan pemandu semi active laser dan terminal infrared homing.

Spesifikasi teknis drone Schiebel S-100 antara lain punya diamater rotor utama 3400 mm, panjang total 3.110 mm, tinggi 1.120 mm, dan berat maksimum 200 kilogram. Tangki bahan bakar internal 57,1 liter serta tangki BBM eksternal mencapai 25,4 liter. Koneksi data link drone ini mampu menjangkau radius 200 kilometer, ini artinya koneksi LoS (Line of Sight) dapat dilakukan sampai jarak tersebut.

Baca juga: Siap Dikirim Ke Indonesia! Saab Skeldar V-200, Drone Helikopter Untuk Misi Intai Maritim

Kemampuan terbang drone ini meliputi kecepatan terbang maksimum 240 km per jam, kecepatan laju 185 km per jam, serta kecepatan operasi 100 km per jam. Endurance di udara Schiebel S-100 adalah enam jam dengan playload 50 kilogram dan batas ketinggian terbang mencapai 5.500 meter. (Gilang Perdana)

Sumber: Indomiliter.com
Loading...

Sampaikan Pendapat