Oleh: Arief Gunawan



SALAH satu tekhnik untuk membangun pencitraan adalah dengan merekayasa opini bahwa diri kita dibully atau dizalimi. Lantaran ada kepercayaan masyarakat kita menyukai hal-hal yang melodramatik & melankolik.
SBY naik jadi presiden karena dibangun opini dizalimi karena tidak diajak dalam rapat-rapat kabinet Megawati dan mendiang Taufik Kiemas waktu itu menyebutnya jenderal yang seperti anak kecil.


Anies Baswedan gubernur Jakarta yang berambisi jadi calon presiden dan diperkirakan bakal jadi kompetitor Jokowi di Pilpres tahun depan disebut-sebut sedang gencar melakukan berbagai tekhnik pencitraan. Kejadian dihalang-halanginya Anies yang ingin mendampingi presiden memberikan trophi di ajang Piala Presiden beberapa hari yang lalu terbaca oleh publik sebagai bagian dari tekhnik pencitraan seakan-akan Anies dibully atau dizalimi.


Pola rekayasa opini seolah dibully atau seolah dizalimi sekarang sudah menjadi emotion play untuk menarik (mengelabui) publik yang ironisnya  soal-soal bully dan soal-soal dizalimi (pencitraan) seperti ini malah jadi bahan ulasan kalangan terdidik yang terlibat menjadi partisan. Tidak mengoreksi atau mengkritisi meski padahal secara esensi politik pencitraan adalah indikator kemunduran dimana pemimpin yang benar-benar handal, memiliki visi, integritas, kompetensi, reputasi, dan prestasi akan sulit didapatkan.


Nama-nama yang belakangan ini mengajukan diri untuk menjadi cawapresnya Jokowi di Pemilu Presiden tahun depan juga melakukan pola rekayasa opini yang sama.


Muhaimin Iskandar yang belakangan rajin mengkampanyekan diri kepingin jadi cawapresnya Jokowi malah telah mengundang tanda tanya besar lantaran dirinya mengklaim sebagai sosok yang mewakili umat, pada fakta lain porsi suara partai yang dipimpinnya ternyata sangat kecil.


Stigma lain yang melekat pada Cak Imin adalah perebut takhta PKB dari tangan Gus Dur, pendiri PKB dan yang merupakan pamannya sendiri, yang dia gulingkan begitu saja  tanpa diberikan tempat sedikitpun hingga kini  berkaitan dengan jasa-jasa besar Gus Dur.


Adapun Rommy (Romahurmuziy) sang Ketum PPP yang meski kelihatan tak segencar Cak Imin menggelindingkan diri kepingin jadi cawapresnya Jokowi oleh banyak kalangan dianggap belum layak, salah satunya Rommy dianggap tak becus menyelesaikan konflik internal di partainya sendiri yang diperebutkan oleh Djan Faridz.


Ada yang bilang lebih baik Rommy belajar jadi menteri lebih dulu supaya punya cukup pengalaman terlibat dalam pengelolaan negara.


Nama-nama yang mengajukan diri ingin menjadi cawapresnya Jokowi di Pemilu Presiden tahun depan esensinya adalah ingin mendapatkan privilege belaka, mereka berlomba untuk itu, sebab pada dasarnya mereka tidak memiliki modal yang cukup yang berkaitan dengan visi, integritas, kompetensi, prestasi, reputasi, dan keberpihakan yang jelas terhadap rakyat.


Ibaratnya mereka layak mendapat ‘’piala citra’’ yaitu piala pencitraan, karena sesungguhnya mereka sekarang sedang berlomba dalam hal membangun pencitraan dengan berbagai tekhnik dan variasi mereka masing-masing untuk mengelabui rakyat. Karena pencitraan bukan substansi karena itu sangat berbahaya.

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here