Loading...
Berita

Belum Dicekal ke Luar Negeri, Keberadaan Tersangka Korupsi Nur Mahmudi Misterius

Nur Mahmudi Ismail (kiri), Jalan Nangka, Tapos, Depok, yang diduga dikorupsi (kanan).

Polisi sampai saat ini belum juga mengajukan pencekalan terhadap mantan Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail dan bekas Sekda Depok Harry Prihanto ke Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi. Kedua tersangka kasus korupsi pelebaran Jalan Nangka, Depok, Jawa Barat, itu masih leluasa bepergian ke luar negeri.


Hingga kini keberadaan Nur Mahmudi pun masih misterius.


Kepala Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas II Depok, Dadan Gunawan mengaku, pihaknya belum menerima surat perintah pencekalan ke luar negeri dari Polresta Depok terhadap kedua tersangka tersebut.


Padahal, surat itu sangat diperlukan untuk mengantisipasi tersangka melarikan diri ke luar negeri.


“Sampai sekarang belum ada surat cekal dari polisi kepada Ditjen Imigrasi. Kalau ada, kami akan dapat salinannya dan disebarluaskan,” kata Dadan Gunawan, Jumat (31/8) seperti dikutip Indopos.


“Cekal akan dipergunakan oleh kantor imigrasi dalam proses layanan bepergian keluar negeri. Apabila orang masuk daftar cekal maka layanan keimigrasiannya tidak bisa diproses,” lanjutnya.



Pejabat yang akrab disapa Dadan itu juga mengaku sudah mengecek sistem cekal Ditjen Imigrasi. Dan dia memastikan nama dua mantan petinggi Pemkot Depok itu tidak ada dalam daftar.

Baca Juga:  Belum Puas Ahok Dipenjara, GNPF MUI Kini Laporkan Jaksa Agung ke Komisi Kejaksaan!

Di sisi lain, Kapolresta Depok Kombespol Didik Sugiarto mengaku jika pihaknya telah berkordinasi dengan Ditjen Imigrasi untuk melakukan pencekalan terhadap Nur Mahmudi dan Harry Prihanto.


Koordinasi itu, kata Didik, dilakukan lembaganya sehari setelah penetapan status tersangka. Artinya mantan pejabat Pemkot Depok tersebut tidak akan bisa bepergian ke luar negeri.


“Semua prosedur termasuk pencekalan sudah kami lakukan. Kami memang belum menahan keduanya, karena penyelidikan masih berlanjut,” tuturnya.


Didik pun memastikan, jika jajarannya juga telah melayangkan surat perintah dimulainya penyidikan (SPDP) kasus dugaan korupsi itu kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok. Pihaknya pun menyatakan tidak akan tebang pilih dalam menyelesaikan kasus korupsi yang menjerat keduanya.


Sementara itu, setelah menyandang status tersangka, keberadaan Nur Mahmudi Ismail hingga kini tidak diketahui. Sebagimana dilaporkan JPNN, 1 September 2018, di kediaman politikus PKS yang juga mantan Menteri Kehutanan dan Perkebunan itu di kompleks Griya Tugu Asri, Jalan RTM, Tugu, Cimanggis, Kota Depok, petugas keamanan pun tak mengetahui keberadaan politikus PKS itu.

Baca Juga:  Meski Dikritik Pencitraan oleh Prabowo, Jokowi Tetap Kirim Bantuan ke Myanmar

Jalan Nangka, Tapos, Depok, yang diduga dikorupsi

Jalan Nangka, Tapos, Depok, yang diduga dikorupsi. (Foto: Matius Alfonso/detikcom)


“Kurang tahu. Saya sendiri saja tidak tahu bapak kemana. Tugas saya hanya menjaga rumah ini,” kata petugas keamanan rumah Nur Mahmudi, bernama Rozikin.


Rozikin mengatakan, dua minggu sebelumnya majikannya itu sempat sakit gara-gara terjatuh setelah mengikuti lomba peringatan HUT RI ke 73. Kemudian, Nur Mahmudi sempat dirawat di Rumah Sakit (RS) Herminan Depok.


“Mungkin ke rumah sakit lain bapak berobat. Sekarang ini tidak ada di rumah. Silakan cek ke anggota keluarga beliau saja agar lebih pasti,” ucapnya.


Diketahui, Nur Mahmudi ditetapkan sebagai tersangka pada 20 Agustus 2018 lalu. Dia bersama mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Depok, Harry Prihanto, menjadi tersangka kasus dugaan korupsi proyek pelebaran Jalan Nangka di Kelurahan Sukamaju Baru, Kecamatan Tapos, Depok, Jawa Barat. Kerugian ditaksir mencapai Rp10,7 miliar.


Dalam kasus ini polisi telah memeriksa 30 saksi.


Kasus ini sendiri mulai disidik pada November 2017. Polisi menduga ada perbuatan melawan hukum dalam proses pengerjaan jalan tahun anggaran 2015 itu.

Loading...

About the author

Citra

You are what you read! Ungkapan itu membuat kami ingin menyajikan berita tulisan yang sesuai dengan jati diri Anda. Selamat membaca dan silahkan berkomentar...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.