Setiap akhir bulan, sejumlah mall, bahkan toko-toko online menawarkan sejumlah barang branded dengan harga yang miring atau diskon besar-besaran hingga 70 persen ‘Great Sale’. Anehnya, animo para pembeli untuk berburu barang diskon itu cukup mencengangkan. Publik Indonesia yang masih suka ribut-ribut tiap kali harga BBM atau harga beras naik ini ternyata memiliki nafsu belanja yang cukup tinggi. Lihat saja, jika gelaran diskon besar-besaran dibuka maka dipastikan pesertanya membludak.


Perilaku semacam ini ternyata bukan fenomena Indonesia saja, konsumerisme merupakan fenomena internasional, yang mana orang-orang melakukan pembelian dan mengonsumsi barang lebih dari kebutuhan dasar mereka, dan juga diterangkan bahwa kegiatan konsumsi seperti ini sudah ada pada peradaban pertama, seperti mesir kuno, babilonia, dan romawi kuno. (Wikipedia)


Konsumerisme dalam kamus ilmiah populer disebutkan adalah menjadikan barang sebagai ukuran kebahagiaan hidup. Artinya puncak kebahagiaan seseorang itu diukur dari kepuasan seseorang dalam memenuhi apa yang dia inginkan tanpa melihat manfaat atau fungsinya. Alhasil barang ditumpuk saja dalam jumlah besar. Baudrillard (dalam poster, 1988: 29) menyebutkan bahwa kita telah menjadi masyarakat yang disifati oleh “konsumsi dan kekayaan yang berlebihan”.


Maka tak heran, jika ada barang bermerk yang dijual murah akan diburu, karena hidupnya sudah dipengaruhi oleh Konsumerisme. Apalagi, di sisi lain, hidup manusia adalah proses konsumsi, masyarakat konsumen, dimana segala sesuatu dijual, dipertukarkan untuk hanya sekedar memenuhi hasrat ingin memiliki suatu barang. Seperti kata Baudrillard, itu berlaku jug pada konsumerisme tubuh, seks, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Sejak Kapitalisme merambah seluruh wilayah di dunia, maka sejak itu juga konsumerisme menjadi wabah baru bagi generasi milineal termasuk ‘kids zaman now’. (rot)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here