Baru-baru ini media Indonesia kembali diramaikan oleh pemberitaan dari Asma Dewi, seorang rumah tangga yang baru saja terciduk polisi. Pasalnya, ia ditangkap polisi lantaran terjerat kasus penyebaran berita yang berkaitan dengan ujaran kebencian (hate speech) yang mengandung isu Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) dalam media sosial. Terlebih, ia juga kedapatan terbukti menjadi donatur sindikat Saracen.


Seakan dua hal tersebut belum cukup, satu fakta yang paling menarik perhatian publik adalah karena ia juga ternyata merupakan kerabat dari anggota kepolisian sehingga hal tersebut menimbulkan kontras. Menurut pantauan Surya.co.id melansir Tribunnews.com, Selasa (12/9/2017), perempuan asal Sulawesi utara ini juga sering mengunggah status kebencian di akun Facebooknya, @Asma Dewi Ali Hasjim.

Bahkan, Asma Dewi kerap mengunggah status isu SARA (Suku Agama Ras dan Antargolongan), hingga belasan kali dalam sehari. Saat sejumlah anggota Saracen ditangkap, ia pun ikut menyalahkan pihak kepolisian.

Selain itu, Asma Dewi juga tak jarang menggiring opini publik tentang pemerintahan Presiden RI, Joko Widodo—termasuk beberapa hal seperti kebijakan pemerintah hingga status Facebook yang dibuat sang presiden. Sebagian dari status Facebooknya pun tidak ditulis oleh Asma Dewi secara pribadi.

Banyak statusnya berisi konten copy paste sebuah link, atau foto hingga tautan berita yang ia posting ulang dengan sedikit komentar.

Seperti yang diungkapkan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto, Asma sendiri berasal dari keluarga polisi. Bahkan ada yang masih aktif.

“Kakaknya aktif. Kakaknya itu polwan dan polki (polisi laki-laki),” tutur Setyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (11/9/2017).

Belakangan, melansir laporan Detik.com, polisi menemukan data bahwa Asma Dewi menransfer uang Rp 75 juta ke pengurus Saracen.

Kadiv Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto menyebutkan penyidik siber telah mengantongi informasi bahwa Asma Dewi juga terlibat grup Saracen. Menurut Setyo, Asma Dewi pernah menransfer uang sebesar Rp 75 juta kepada anggota inti Saracen berinisial NS.

“Penyidik sudah dapat info tentang yang bersangkutan melakukan transfer uang senilai 75 juta ke NS. NS adalah anggota inti grup Saracen. NS Kemudian transfer ke D. Dalam mutasi tersebut disebut untuk membayar Saracen,” beber Setyo.

Hal itu disampaikan Setyo kepada wartawan di Auditorium Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jalan Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (11/9/2017) kemarin.

Dikatakan Setyo, uang tersebut bermuara ke seseorang berinisial R. R belakangan diketahui berperan sebagai bendahara Saracen.

“D transfer uang ke R, bendahara Saracen,” pungkas Setyo menjelaskan.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here