Pada Juni 1968, Panglima Kodam Brawijaya Mayjen M Jasin menggelar operasi militer dengan sandi Operasi Trisula guna menumpas sisa-sisa pentolan dan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat itu PKI membuat basis di Blitar Selatan. Yang ditunjuk sebagai pemimpin Operasi Trisula adalah Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 18 pertama Kolonel Inf Witarmin.

Beberapa pentolan PKI yang ikut bergabung di Blitar Selatan antara lain adalah Sabandi Rewang Parto, mantan anggota Politbiro Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI); Oloan Hutapea; dan Sukatno, mantan Ketua Pemuda Rakyat. PKI di Blitar Selatan menggelar Sekolah Perlawanan Rakyat (SPR) dan Kursus Kilat Perang Rakyat (KKPR).

Sebagai operasi gabungan, Operasi Trisula membuat TNI mengerahkan kekuatan besar-besaran untuk memukul para pemberontak. Tentara menyisir kawasan hutan Blitar Selatan guna mencari pemberontak yang bersembunyi di gua-gua. Demikian sebagaimana dilansir dari reportase Sindonews.com, Minggu (24/9/2017).

Diketahui bahwa Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang kini adalah TNI Angkatan Udara turut ambil bagian dalam Operasi Trisula. AURI diwakili Komando Wilayah Udara IV dan langsung di bawah pimpinan Panglima Kowilu IV Komodor Udara Suwoto Sukendar.

Berdasarkan Surat Perintah Operasi Panglima Kowilu IV No 84/PO/1968 tertanggal 6 Juni 1968, untuk menunjang operasi ini dibentuk suatu task force Operasi Elang dengan tugas utama memberikan bantuan baik di darat maupun dari udara.

Bantuan operasi udara berupa bantuan taktis, yakni bombing, straffing, dan rocketting dari udara, guna mempersempit ruang gerak gerombolan PKI. AURI mengerahkan sejumlah pesawat yakni 2 pesawat pemburu P-51 Mustang, satu pengebom B-26 Invader, dan satu pesawat AT-16 Harvard. Air straffing dengan senjata 12,7 terhadap kubu-kubu lawan pun dilakukan  pada 10 Juli 1968.

“Pelaksanaan operasi penghancuran dilakukan dengan penembakan-penembakan roket dan senapan mesin 12,7 mm dari udara terhadap sasaran di areal yang luas di lereng-lereng gunung dengan hutan yang sangat lebat di sepanjang pantai selatan Blitar,” demikian ditulis dalam buku Perjuangan TNI AU.


Pengebom B-26 Invader cukup efektif melakukan penembakan dan pengeboman dari udara. Si Moncong Hiu ini dilengkapi 14 senapan mesin berat (SMB) Browning AN-M3 kaliber 12,7 mm, 8 roket, dan 8 bom seberat 227 kg. Dengan 14 SMB, pengebom B-26 mampu menjalani misi COIN (counter-insurgency) atau anti gerilya.

Tak hanya memberikan bantuan tembakan udara bagi gerakan tempur pasukan darat, B-26  juga melakukan serangan udara langsung untuk membuka jalan dan memberikan perlindungan udara helikopter yang akan mendorong logistik ke posisi pasukan di darat.

Pasalnya, pada Operasi Trisula, AURI juga mengerahkan pesawat angkut militer C-130 B Hercules dan helikopter Mi-4. Tugas utama dari pesawat ini yakni mengadakan pengangkutan udara untuk keperluan pengangkutan pasukan, logistik, survei, dan VIP flight.

Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) yang kini dikenal sebagai Pasukan Khas TNI AU (Paskhas) juga turut serta dalam Operasi Trisula. Dalam mendukung operasi ini, Korps Baret Jingga tersebut mengerahkan satu kompi pasukannya dari Resimen III dibawah pimpinan LU II Wim Mustamu.

Gerombolan PKI yang semula bersembunyi di hutan-hutan terpaksa meninggalkan persembunyiannya dan bergeser ke arah utara. Di sana sudah siap tim penyapu dari darat menghentikan mereka. Operasi Trisula mencatat 33 tokoh PKI ditembak mati dan 850 orang pengikut PKI ditangkap selama tiga bulan operasi.

Sebagai tanda peringatan penumpasan PKI ini, maka di daerah Bakung, Kabupaten Blitar Selatan yang dijadikan Markas Komando operasi ini didirikan monumen yang diberi nama Monumen Trisula. Diresmikan pada 18 Desember 1972 oleh Deputi Kasad Letjen TNI M Jasin, Monumen Tugu Trisula dibentuk oleh Deputi Kasad Letjen TNI M Jasin.

Yokosuka K5Y atau yang popular disebut Cureng menjadi pesawat TNI AU yang tak bisa dilupakan perannya dalam membantu penumpasan PKI ini. Cureng sendiri merupakan pesawat peninggalan Jepang yang paling banyak dan ditemukan hanya di Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta.

Pesawat Cureng ikut dalam operasi pemberantasan gerombolan PKI yang melarikan diri dari Madiun bertahan di Purwodadi, Blora, Kudus, dan Pati pada 1948. Gerombolan PKI Muso cukup kuat dan telah memiliki posisi bertahan yang strategis di Purwodadi-Cepu.

Gubernur Militer Jenderal Gatot Soebroto meminta Panglima Besar Soedirman agar memerintahkan AURI terus menembaki jalan menuju Purwodadi. Namun, Kepala Staf AURI Marsekal Soeryadarma menuturkan perintah itu tak mungkin dilaksanakan sebab saat itu AURI hanya punya beberapa pesawat tua buatan Jepang dan amunisi juga terbatas.

Satu hal yang utama adalah tak adanya radio komunikasi antara pasukan di darat dengan pilot AURI di udara. Bila tak ada komunikasi, tentu bisa fatal akibatnya. Dikhawatirkan pesawat malah berpotensi menembaki pasukan sendiri. Kemudian AURI memutuskan mengerahkan satu pesawat untuk mengebom Purwodadi.

Dari Pangkalan Udara Maguwo, dikirim pesawat Cureng yang dipiloti Kadet Udara I Aryono dan Kapten Mardanus sebagai observer udara. Inilah pengalaman terbang pertama untuk Mardanus yang sehari-hari menjadi kepala bagian personalia Markas Besar Angkatan Perang.

Sejatinya pesawat tua peninggalan Jepang ini biasanya digunakan sebagai pesawat latih. Namun karena keterbatasan, akhirnya digunakan sebagai bomber. Pesawat bersayap ganda ini masih mampu terbang tiga jam nonstop dan membawa dua bom seberat 50 kg yang dilepaskan secara manual.

Cuaca cerah saat Kadet Aryono lepas landas dan setengah jam kemudian pesawat Cureng sudah mencapai Purwodadi. Aryono terbang rendah, tree top level atau nyaris setinggi pohon, membidik Kompleks Gedung Kabupaten. Dua bom dijatuhkan dan mengenai sasaran. Ledakan keras terdengar.

Berdasarkan hasil laporan intelijen, diketahui bahwa pengemboman tersebut ternyata efektif untuk membuat gerombolan PKI kocar-kacir. Saat bom dijatuhkan, ternyata PKI baru akan mengeksekusi tahanan. Mereka pun bubar saat bom jatuh dan eksekusi batal dilaksanakan.

Kerja sama antarangkatan (darat dan udara) dalam pengemboman di Purwodadi ini merupakan salah satu yang pertama dilakukan TNI. Mungkin karena takut ada pengeboman lagi, PKI berangsur-angsur menarik diri dari Purwodadi. Mayor Kosasih dari Brigade I/Siliwangi berhasil merebut Purwodadi pada 5 Oktober 1948.

Pasukan Brigade I/Siliwangi terus bergerak ke arah Utara dan akhirnya bisa membebaskan Kilang Minyak di Cepu pada 8 Oktober. Pertempuran di Cepu merupakan salah satu yang tersulit dan berlangsung sengit. Selama delapan hari, Blok Minyak Cepu berganti tangan empat kali! Awalnya TNI berhasil merebut, tapi PKI merebut lagi, dan terjadi seperti itu berkali-kali. Di siang hari TNI memegang kendali, di malam hari Laskar Minyak yang mengambil alih kendali Cepu.

Tak lama kemudian, seluruh pemberontakan PKI dipadamkan. Muso tertembak dalam pengejaran di Ponorogo pada 31 Oktober 1948. Sedangkan Amir Syarifuddin, Abdul Madjid, Djojoningrat, dan Setiadjid ditangkap hidup-hidup di Purwodadi pada 29 November 1948. Pada 1 Desember 1948, tokoh-tokoh PKI itu dibawa ke Yogyakarta untuk diproses hukum dan pada 20 Desember 1948 tokoh-tokoh PKI ini dihukum mati.

Selama 13 hari pemberontakan PKI berkuasa, diperkirakan hampir 10.000 jiwa korban yang berjatuhan. Pembantaian di Madiun dilakukan PKI sejak 19 September 1948. Ini terjadi setelah Muso mendirikan negara Republik Soviet Indonesia (RSI) yang diproklamirkan pada 18 September 1948.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here