Kasus korupsi e-KTP yang menjerat Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto memang tengah menjadi sorotan. Meski begitu, Novanto tak mau dicopot dari jabatannya sebagai Ketua DPR RI.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD juga ikut berkomentar tentang kasus tersebut. Bahkan, Mahfud berhasil membungkam dua pengacara Novanto, Otto Hasibuan dan Fredrich Yunadi.

Diunggah oleh akun YouTube @Indonesia Lawyers Club tvOne, Selasa (21/11/2017) kemarin, Mahfud menyoroti beberapa hal yang disampaikan Otto dan Fredrich.

Dalam video berdurasi 17 menit 50 detik tersebut, Mahfud beberapa kali mengungkap perkataan pengacara Novanto yang dianggap tak sesuai dan kontroversial.

“Pak Otto itu hebat. Tapi saya ingin katakan, Pak Otto itu bukan ahli hukum pidana,” ujar Mahfud membuka komentarnya.

Selain itu, ada beberapa komentar lain yang juga menjadi poin penting dalam permbicaraan tersebut. Dilansir tribunnews.com, berikut ulasannya:

Meski sempat memuji kemampuan Otto dibidang hukum, Mahfud menyebut bahwa cara Otto menjelaskan kasus Novanto hanyalah sebuah dramatisasi pembelaan. Meski begitu, hakim tentu bisa menilai mana yang benar atau tidak.

Selanjutnya, Mahfud meluruskan tentang pengertian asas praduga tak bersalah. Pengacara Novanto memang sempat meminta agar tak sembarangan menuduh kliennya terlibat korupsi.


Menurut Mahfud, asas praduga tak bersalah bukan berarti tak boleh menduga orang bersalah. Melainkan, tidak boleh memperlakukan orang yang diduga bersalah seperti orang yang divonis atau sudah dinyatakan bersalah.

Sejumlah petunjuk yang berkaitan dengan Novanto juga sempat muncul di pengadilan. Salah satunya adalah ketika Novanto meminta agar sejumlah orang yang terlibat kasus korupsi e-KTP mengaku tak mengenal dirinya saat dimintai kesaksian di persidangan.

Mahfud juga sempat menyoroti kondisi kesehatan Novanto dan kecelakaan yang dialaminya. Menurutnya hal ini juga menjadi bukti petunjuk kasus Novanto.

“Sakit ini, sakit itu, dikepalanya ada lemper, dan sebagainya itu. Ketika menang praperadilan sembuh, ketika tersangka lagi, tiba-tiba tabrakan,” komentar Mahfud.

Setelah dijadikan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novanto sempat meminta perlindungan ke berbagai pihak, seperti presiden, Polri dan TNI.

Padahal, dia sudah mendapat perlindungan dengan dikawal oleh petugas. Mahfud pun membandingkannya dengan pencuri amplifier yang dibakar massa. Menurutnya, Novanto sudah sangat dilindungi oleh negara.

Dua hal ini pernah diungkit oleh Fredrich Yunadi. Namun, Mahfud menegaskan bahwa Pengadilan HAM Internasional hanya mengurusi kejahatan kemanusiaan seperti genosida. Begitu pula dengan hak imunitas DPR yang tak menyangkut pelanggaran seperti kasus korupsi.

Terakhir, Mahfud menyebut soal atraksi akrobatik yang dilakukan Novanto. Salah satunya adalah dengan tiba-tiba sakit. Padahal, menurut pemeriksaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Novanto baik-baik saja.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here