Maret tahun 1967 yang lalu, pelukis Basoeki Abdullah mendengar desas-desus ada seorang intel yang tengah mencari dirinya. Bukan sembarang intel, namanya adalah Mayor Aloysius Sugiyanto yang merupakan tangan kanan dari Ali Moertopo. Kala itu, nama Ali Moertopo bisa membuat nyali banyak orang ciut seketika.

Ali Moertopo merupakan kepercayaan dari Presiden Soeharto, dengan hanya menggunakan telunjuk ‘saktinya’, ia bisa menjebloskan siapa saja ke balik penjara. Apalagi, ‘hanya’ sekelas seniman seperti Basoeki. Dan wajar sekali jika Basoeki yang sudah bertahun-tahun tinggal di Bangkok sebagai pelukis Istana Kerajaan Thailand, merasa ketar-ketir.

Basoeki merupakan salah satu sosok yang cukup dekat dengan Bung Karno. Dan alih-alih membawa rezeki, kedekatannya dengan Bung Karno malah bisa membuat petaka baginya. Gejolak politik di Jakarta setelah peristiwa 30 September 1965 memang membuat hidup banyak orang jungkir balik

“Jangan-jangan saya akan ditangkap,” Basoeki, seperti dikutip Agus Dermawan dalam bukunya, Basoeki Abdullah: Sang Hanoman Keloyongan, membatin, dilansir dari Detik.com

Beberapa mantan pelukis Istana Presiden, sebut saja seperti Dullah, Lee Man Fong, dan juga Lim Wasim, nasibnya juga tak seberapa baik. Hidup mereka bahkan tak bisa tenang setelah peristiwa tahun 1965 itu. Karena ketakutan itulah, Basoeki terus mencari jalan untuk menghindari dari Mayor Sugiyanto. Namun ternyata, Mayor Sugianto tak dirkirim untuk menangkap Basoeki.

Ternyata, Mayor Sugiyanto dikirim dari Jakarta untuk menjemput Basoeki lantaran Presiden Soeharto ingin dilukis. Terbanglah Basoeki ke Jakarta bersama dengan istrinya, Nataya Nareerat. Mereka diperlakukan layaknya tamu terhormat.

Bahkan, mereka diinapkan di Hotel Indonesia. Tanggal 12 Maret 1967, Basoeki dipertemukan dengan Presiden Soeharto di kediamanya di Jalan Cendana, Jakarta. Tak butuh waktu lama, Basoeki hanya butuh beberapa hari untuk menyelesaikan lukisan yang dipesan Presiden Soeharto. Tugasnya selesai, Basoeki beserta istri pulang kembali ke Thailand.

Upaya Basoeki Bertemu Sahabatnya, Bung Karno



Dari Bangkok, Basoeki memantau berbagai kabar di Tanah Air. Dia mendengar kabar mengenai sahabatnya, Bung Karno yang dikurung dan diasingkan di Wisma Yaso. Ia selanjutnya bepikir keras untuk bisa menemui sahabatnya tersebut. Tak ada jalan lainnya kecuali melalui penguasa tertinggi, Presiden Soeharto. Basoeki selanjutnya mengirimkan permohonan untuk melukis kembali Presiden Soeharto.

Kali ini, Basoeki juga menyampiakn keinginannya melukis Ibu Negara, Tien Soeharto. Permohonan Basoeki dikabulkan, dan sepanjang Februari tahun 1968 ia menggarap lukisan Presiden Soeharto dan istrinya. Setelah pekerjaan rampung, ia menyampikan maksud untuk mengunjungi Bung Karno, namun tak diizinkan hingga Presiden pertama Indonesia itu wafat pada 21 Juni 1970. Basoeki tak pernah bertemu dengan sahabatnya lagi.

“Ketika Bung Karno mangkat, saya terus berusaha menghubungi Ratna Sari Dewi. Tapi tak pernah berhasil,” kata Basoeki.

Selain bersahabat dengan Bung Karno, Basoeki kenal baik dengan istri-istrinya, termasuk Ratna Sari Dewi. Beberapa kali dia melukis Ratna Sari Dewi di Wisma Yaso.

Hutang Presiden Soeharto Pada Basoeki

Meski bersahabat dekat Bung Karno, Basoeki ternyata tak tahu banyak siapa Jenderal Soeharto. Namun, justru ia lebih kenal dengan Siti Hartinah ‘Tien’ Soeharto. Kedekatan Basoeki dan Bu Tien ini bermula ketika masih sama-sama bocah di Solo. Keduanya bertemu di lingkungan Katolik, di dekat gereja. Basoeki tak tahu menahu apa yang dilakukan anak perempuan itu di gereja. Ayah Siti Hartinah adalah Kanjeng Raden Tumenggung Soemohardjomo, pamong di lingkungan Pura Mangkunegaran.

Puluhan tahun berlalu, Basoeki kembali dipertemukan dengan Siti Hartinah, namun perempuan itu sudah menjadi Ibu Negara, Tien Soeharto. Mungkin lantaran kesibukan dan sesama orang Solo, Basoeki lebih dekat dengan Bu Tien. Tak seperti Bung Karno yang dekat dengan para seniman, Presiden Soeharto memang tak terlalu akrab dengan kesenian, ia memiliki basic prajurit.


Salah satu orang yang sering diajak Basoeki ke Istana adalah Bernadetta yang kini 86 tahun. Dia menyebutkan hubungan Basoeki dengan Soeharto memang tak sedekat dengan Bung Karno. Namun, tak ada orang lain yang lebih berani meniru yang dilakukan Basoeki.

“Kepala Pak Harto dia pegang-pegang, terus Pak Bas bilang, ’Iki kudune nganggo peci.’”

Berdasarkan Bernadetta, khusus untuk Presiden Soeharto dan Bu Tien, Basoeki tak pernah memasang harga. Bahkan, Basoeki juga sering sungkan menerima bayaran dari putra-putri Presiden dan menterinya.

Di tanggal 26 Desember 1987, merupakan hari spesial Presiden Soeharto dan istrinya. Hari itu merupakan ulang tahun pernikahan yang ke-40. Anak-anak Presiden yakni Siti Hardijanti Rukmata (Tutut) dan Siti Hediati Prabowo (Titiek), ingin memberikan hadiah istimewa untuk orang tua mereka. Mereka kemudian memesan lukisan kepada Basoeki. Awalnya, ia berniat melukis kawanan angsa, namun kemudian berubah fikiran. Kawanan merpati dinilai lebih cocok untuk menggambarkan Keluarga Cendana.

“Karena merpati menggambarkan kebebasan dan kelincahan,” kata Basoeki.

Tutut dan Titiek yang memesan lukisan itu setuju. Maka jadilah lukisan itu sebagai hadiah spesial. Kemudian Presiden Soeharto menyuruh anak-anak dan para cucunya membubuhkan tanda tangan di setiap merpati lukisan Basoeki. Namun rupa-rupnya, coretan di karya itu tak bisa ditolerier oleh Basoeki. Dia marah besar dan berulang kali menyampaikan keberatan, namun tak pernah berhasil.

Bukan Presiden Soeharto jika tak memiliki telinga yang awas, kabar keberatan itu sampai juga ke telinganya. Hampir empat tahun kemudian, saat membuka pameran tunggal Basoeki di TMII, Presiden Berbisik kepadanya.

“Pak Basoeki, saya punya utang, ya,” kata Presiden Soeharto. Basoeki tak menyangka Presiden berkata seperti itu. “Ah, utang apa, Pak Harto?” Presiden Soeharto, seperti biasa, hanya tersenyum.

Basoeki hanya bisa menduga perihal apa yang dimaksud oleh Presiden. Dan baru dua tahun kemudian presiden Soeharto ada kesempatan untuk melunasi hutangnya. Namun sayang, ‘utang’ itu lunas setelah Basoeki meninggal. Sang maestro meninggal lantaran dibunuh maling pada 5 November 1993.

Dan sesuai wasiat Basoeki, ia minta dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga kakeknya, Dr. Wahidin Sudirohusodo di Mlati, Sleman, Jogja. Presiden dan Keluarga Cendana menyediakan satu pesawat untuk menerbangan jenazah Basoeki ke Jogja.

 “Pak Harto mau bayar utang kepada Pak Basoeki,” ujar seorang kerabat Cendana dikutip Agus Dermawan dalam bukunya.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here