Loading...
Dunia Militer

Mengenal Dassault Rafale B, Jet Latih Tempur dengan Predikat Battle Proven

Tidak seperti misi Rafale ke Indonesia pada Maret 2015, yang terdiri dari satu Rafale C (single seat) dan satu Rafale B (tandem seat), pada Misi Pegasus 2018 yang dibawa AU Perancis adalah satu flight yang terdiri dari tiga Rafale B. Meski yang dibawa adalah varian tandem seat yang notabene untuk fungsi latih tempur, toh aksi Rafale dalam penerbangan terjauhnya ini dapat maksimal, terutama saat latihan udara multilateral Pitch Black 2018 yang belum lama berlangsung di Darwin, Australia.

Baca juga: Misi Pegasus 2018 – Sapa Jakarta, Inilah Penerbangan Terjauh Rafale dari Basisnya

Bahkan, Rafale B ditengah perannya sebagai pesawat latih tempur, tak kalah garang dalam penugasan dibandingkan Rafale C. Semenjak keterlibatan Perancis dalam Operasi Harmattan di Libya pada 2011, Operasi Serval di Mali pada 2013, dan Opération Chammal menumpas ISIS di Irak pada 2014, porsi penugasan Rafale B terbilang masif.

Seperti pada Operasi Harmattan, Rafale sukses melakukan pemboman dengan bom pintar dari ketinggian maksimal. Nama-nama bom pintar seperti AASM “Hammer” precision-guided bomb dan rudal jelajah Storm Shadow SCALP sudah kenyang dijatuhkan pada beragam obyek vital di Libya. Pada Operasi Serval, Rafale B bahkan langsung diterbangkan dari basisnya di Perancis untuk melakukan pemboman d Mali. Bersama dengan Miraga 2000, Rafale melakukan rangkaian pemboman dengan presisi tinggi yang didukung jasa pesawat tanker.

Yang terbaru, pada April 2018, Rafale B dari Escadron de Chasse 1/4 Gascogne, turut terlibat dalam misi penghancuran sasaran terpilih di Suriah. Bersama dengan jet tempur Tornado AU Inggris, Rafale B sukses merilis rudal Storm Shadow. Sebagai catatan, Perancis menyebut Storm Shadow sebagai SCALP EG (Système de Croisière Autonome à Longue Portée – Emploi Général), alias General Purpose Long Range Standoff Cruise Missile.

Baca Juga:  23 April 2018, KRI Ardadedali 404 Dijadwalkan Berlayar Menuju Indonesia

Dengan predikat battle proven, maka saat Rafale B tiba di Lanud Halim Perdanakusuma pada 19 Agustus lalu, banyak netizen di Indonesia yang memberi perhatian besar pada pesawat buatan Dassault Aviation yang harga per unitnya (tanpa senjata) mencapai 74 juta euro ini.

Dalam jumpa pers di Terminal Selatan, Lanud Halim Perdanakusuma (21/8/2018), Marc Antoine, pilot senior Rafale, menyebutkan bahwa Rafale punya kemampuan pengendalian udara penuh. Salah satunya berkat keberadaan radar RBE2 (Radar à Balayage Electronique 2 plans), jenis radar AESA (Active Electronically Scanned Array).

Rudal Mica.

Secara simultan saat radar AESA ini aktif, dapat menjalankan peran air to air – dimana 40 sasaran dapat terdeteksi dengan delapan diantaranya dapat dikunci sekaligus. Sementara pada peran air to ground, dapat mewujudkan high resolution mapping, dan pada pada peran air to ship, dapat melakukan deteksi dan tracking pada posisi kapal di permukaan.

Baca juga: Radar AESA – Absen di Sukhoi Su-35, Hadir di Eurofighter Typhoon dan F-16 Viper

Seperti halnya Eurofighter Typhoon, Sukhoi Su-27/Su-30 dan Gripen E, Rafale sudah dilengkapi front side optronics, atau dikenal juga dengan sebutan IRST (Infra Red Search and Track System). Secara umum IRST dapat menjangkau jarak hingga 50 kilometer. Soal cakupan (coverage), untuk sudut azimuth mulai dari -60 sampai +60 derajat, sementara sudut ketinggian mulai dari -60 sampai 15 derajat.

Baca Juga:  Boeing Terjun dalam Proyek Pengembangan Bronco II

Saat digunakan bersama radar dalam peran udara-ke-udara, IRST berfungsi sebagai pencari infra merah dan sistem tracking, dengan menyediakan deteksi target pasif. Sementara dalam peran udara-ke-permukaan, IRST melakukan identifikasi sasaran dan akuisisi. Perangkat ini juga memberikan bantuan navigasi dan pendaratan. IRST juga dapat langsung terkoneksi dengan display pada helm pilot lewat helmet mounted sight dalam FLIR mode, selain pastinya juga koneksi ke (HUD) Head Up Display.

Secara umum, profil dimensi dan aspek persejataan pada Rafale B serupa dengan Rafale C, hanya saja bobot Rafale B lebih berat, yakni 10.300 kg dibandingkan 9.850 kg.

Dalam demo terbang pada 21 Agustus, dua unit Rafale B di Lanud Halim berhasil membutikan bahwa jet tempur twin engine (2 × Snecma M88-2 turbofans) ini dapat lepas landas dari jarak 400 meter. Dengan afterburner, Rafale B yang ditumpangi Letkol Pnb. Anton “Sioux” Pallaguna, Komandan Skadron Udara 11 dan Letkol Pnb Muchtadi Anjar “Beagle” Legowo, dapat langsung cepat melesat tinggi dengan kecepatan menanjak 300 meter per detik.

Bagi AU Perancis, menyertakan tiga Rafale B pada Misi Pegasus 2018 telah diperhitungkan dengan cermat. Contohnya dalam pengenalan pesawat, dengan membawa tiga pesawat tandem seat, maka Armée de l’Air lebih punya banyak kesempatan untuk berpromosi dengan mengajak terbang para pilot tempur pilihan dari negara sahabat yang dikunjungi. (Haryo Adjie)

Sumber: Indomiliter.com
Loading...

About the author

Citra

You are what you read! Ungkapan itu membuat kami ingin menyajikan berita tulisan yang sesuai dengan jati diri Anda. Selamat membaca dan silahkan berkomentar...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.