Mendekati detik-detik berakhirnya tahun 2017, Kepolisian Daerah Metro Jaya masih menyimpan setumpuk pekerjaan yang tak kunjung tuntas. Sejumlah kasus bahkan mengalami kebuntuan hingga tak berujung dengan ditemukannya benang merah.


Dihimpun dari laman Tribunnews.com pada Minggu (31/12/2017), berikut ini kasus-kasus penting yang ‘karam’ dan mangkrak di Polda Metro:

Misteri Kematian Akseyna

Pergantian Kapolda Metro Jaya dari Unggung Cahyono, Tito Karnavian, Moechgiyarto, M. Iriawan hingga Idham Aziz tak berpengaruh pada kasus pembunuhan mahasiswa jurusan Biologi di Universitas Indonesia, Akseyna Ahad Dori.

Jenazahnya ditemukan mengambang di Danau kenanga UI, Depok, Jawa Barat dan kuat dugaan ia tewas lantaran dibunuh. Namun pihak kepolisian tak juga berhasil menemukan secercah cahaya untuk menguak pelaku pembunuhan tersebut.

SMS Gelap Antasari

Awal 2017, Antasari menuntut Polda Metro Jaya untuk segera mengusut tuntas kasus SMS gelap yang dituduhkan kepadanya. Kasus ini timbul tenggelam, dan janji penyidik Polda Metro jaya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut hingga kini masih menggantung.

Antasari terseret tuduhan sebagai pelaku pembunuhan berencana terhadap Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen yang tewas tertembak pada 15 Maret 2009. Ia pun sempat mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Dewasa Tangerang selama 7,5 tahun.

Percakapan Asusila


Ditetapkannya pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab dan Firza Husein sebagai tersangka dalam kasus percakapan m***m, masih menyisakan tanda tanya besar hingga akhir tahun. Pasalnya pihak Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta belum menerima kembali berkas perkara Firza.

Selama Rizieq berada di luar negeri, tak menghentikan proses penyidikan dari kepolisian. Selain kasus yang menggemparkan tersebut, Rizieq juga tersandung kasus uang baru dengan logo palu arit. Untuk kasus ini, ia juga telah diperiksa. Namun seperti kasus sebelumnya, pintu keluar masih terkunci rapat.

Dugaan Penggulingan Jokowi

Rachmawati Soekarnoputri, Kivlan Zein, Ratna Sarumpaet, Adityawarman, Eko, Alvin dan Firza Husein ditangkap sebelum aksi 212 pada awal 2017 lalu. Ketujuh orang tersebut ditetapkan sebagai tersangka yang diduga telah melanggar Pasal 107 jo Pasal 110 jo Pasal 87 KUHP.

Dianggap berniat menjatuhkan pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan kasus tersebut bukan rekayasa dengan bukti kuat berupa rekaman video, yang berisi sejumlah tujuan. Pihak Polda Metro Jaya mengaku masih terus melakukan penyidikan.


“Isinya bertujuan menurunkan Presiden Jokowi, menangkap dan mengadili Ahok, mengembalikan konstitusi ke UUD 1945 asli dan menolak reformasi,” tukas Tito yang ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/5), dikutip dari Tribunnews.com, Minggu (31/12/2017).

Kasus Penyiraman Air Keras pada Novel Baswedan

Tanggal 11 April 2017, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mendapatkan serangan tak terduga. Dua orang asing tiba-tiba menyiramkan air keras pada wajahnya. Kedua matanya rusak, namun yang paling parah adalah mata kiri.

Sejumlah aktivis bahkan mendesak pemerintah untuk membentuk tim gabungan demi menemukan fakta untuk membongkar kasus ini. Namun sama seperti kasus-kasus lainnya, Polda Metro Jaya tak kunjung merampungkan proses penyidikan seolah tak peduli pelaku bebas berkeliaran.

Loading...

Sampaikan Pendapat