Loading...
Berita

Mitos Arwah Emen Bergentayangan dan Keselamatan Berkendara

Tanjakan Emen di Ciater, Jawa Barat.

Senja baru saja merayap ketika mobil bak terbuka bermuatan sayur-mayur yang saya tumpangi, meninggalkan sebuah pasar di kawasan Lembang, Bandung, pertengahan tahun 1994 silam.


Petang itu, Dedi (sopir) dan Solihin (kernet) hendak mengantarkan sayur-mayur dari Lembang di Bandung ke Subang. Dedi tak keberatan ketika saya minta izin menumpang kendaraannya dalam rangka tugas jurnalistik.


Sore itu, hampir 24 tahun lalu, saya memang sengaja menumpang mobil sayur dari Bandung menuju Lembang yang berangkat di sore hari. ‘Misinya’ adalah melakukan napak tilas perjalanan serupa yang dilakukan ‘Emen’ pada tahun 1964 atau 30 tahun sebelum saya melakukan napak tilas itu.


Jalanan tampak basah ketika mobil bergerak meninggalkan sebuah tempat di Lembang, Bandung. Kala itu memang sedang musim hujan, persis sama seperti info yang saya dapatkan ketika itu bahwa Emen melakukan perjalanannya di musim hujan.


Kecelakaan bus pariwisata di Tanjakan Emen yang menewaskan 27 penumpangnya, Sabtu (9/2/2018) sore.

Hari mulai gelap, ketika kendaraan bak sayur yang saya tumpangi melintasi kawasan Tangkuban Perahu. Kabut tipis merambat pelan di jalanan dan terus membayangi perjalanan menanjak di kawasan Tangkuban Perahu.


Solihin yang duduk di tengah, sudah sedari tadi terlelap dalam tidurnya. Ia sama sekali tak terganggu obrolan ngalor ngidul saya dengan Dedi. Ia bahkan sama sekali tak khawatir situasi jalanan saat itu licin setelah diguyur hujan dan kabut tipis yang mulai riuh bergentayangan di jalanan.


Solihin tengah berada di ‘dunia lain’ ketika mobil bak sayur yang saya tumpangi menembus kegelapan malam hutan karet. Kala itu, jalanan tak semulus seperti sekarang ini. Terkadang ada lubang di jalan yang menyebabkan mobil bergoyang. Solihin sempat terbangun, tetapi ia tak terusik. Bakan ia kembali memasuki dimensi lain.


Kabut semakin pekat. Jarak pandang sekitar 30 meter. Dedi yang ketika itu mengaku sudah lebih dari 10 tahun menjadi sopir angkutan sayur Bandung-Subang, tampak tenang. Ia mengemudikan kendaraan dengan satu tangan, sementara tangan kanannya sibuk memegangi sebatang rokok menyala yang dari tadi dihisapnya.


Dedi mulai memainkan ritme perjalanan dengan mengatur kecepatan kendaraan. Kabut menghilang dan Dedi kembali memacu kendaraannya.


Tiba di kawasan Ciater, hujan turun. Tak lama kemudian, persisnya di area wisata Ciater, kabut tebal kembali turun. Bahkan lebih pekat dari sebelumnya. Jarak pandang sekitar 15 meter.

Baca Juga:  Ibu Hamil Ini Hampir saja Terjun dari JPO Kuningan Timur


Dedi mengatur posisi duduknya. Pria kelahiran Bandung ini tampak serius. Matanya hanya tertuju pada jalanan. Tangan kanannya kini sibuk memegang kemudi.


Dedi (kabarnya kini sudah almarhum) semakin sering memainkan ritme perjalanan, ketika jalanan berkelok-kelok. Usai meninggalkan lokasi wisata Ciater, Dedi kembali menyalakan sebatang rokok.


Setelah lima atau enam kali dihisapnya, rokok itu dibuang di jalanan. Padahal, sebelumnya, Dedi selalu menghisap rokoknya hingga habis. “Ini yang namanya Tanjakan Emen,” kata Dedi tanpa ekspresi dan tanpa menoleh ke arah saya.


Mendengar itu, entah kenapa, kala itu jantung saya mendadak berdetak kencang. Saya mendadak teringat aneka peristiwa kecelakaan lalu lintas dengan korban tak sedikit yang selama ini terjadi di Tanjakan Emen.


Sejumlah peristiwa kecelakaan lalu lintas di Tanjakan Emen yang saya baca-baca sebelumnya, mungkin sudah menghantui pikiran dan perasaan saya. Apalagi kala itu kabut tebal masih menyelimuti jalanan dan nyaris tak ada kendaraan lain yang melintas malam itu. Kendaraan itu tak dilengkapi lampu kabut, sehingga jarak pandang benar-benar terbatas.


Saya terdiam dan turut serius memandangi jalanan di depan. Di luar gelap gulita, maklum ketika itu lampu penerangan jalan belum seramai seperti sekarang.


Tak berapa lama, kabut pun memudar. Sekitar setengah jam kemudian, kendaraan bak sayur yang saya tumpangi tiba di pasar yang dituju di Subang. Menurut Dedi, kecelakaan sering terjadi karena banyak pengemudi yang tidak mengatur ritme kecepatan ketika melintasi jalanan rute Bandung-Subang, khususnya di kawasan Ciater di mana Tanjakan Emen berada.


“Sudah tidak mengatur kecepatan, mereka juga tidak mengenal betul medan jalanan yang sedang dilintasinya,” kata Dedi yang mengaku sudah ratusan kali melintasi rute Bandung-Subang sehingga hapal betul kondisi setiap jengkal jalanan tersebut.


Dedi barangkali benar. Dari dulu hingga sekarang (terakhir terjadi pada Sabtu tanggal 9 Februari 2018 sore hari), kecelakaan lebih didominasi oleh kendaraan pariwisata yang tengah mengangkut banyak penumpang yang akan berwisata ke kawasan Ciater atau Tangkuban Perahu.


Arwah Emen
Lalu siapa Emen, sehingga namanya diabadikan sebagai nama sebuah tanjakan di kawasan Ciater? Emen adalah nama orang. Ada dua versi mengenai Emen.


Versi pertama, sebagaimana dituturkan Dedi dan dari berbagai literatur yang saya dapat sebelum melakukan perjalanan napak tilas tersebut, Emen adalah nama seorang sopir pengangkut sayur-mayur dan ikan asin yang meninggal akibat kecelakaan di sebuah tanjakan pada tahun 1964.

Baca Juga:  Ini yang Dilakukan KPK untuk Cegah Korupsi Daerah dan Sektor Swasta

Emen dikenal sebagai sopir pemberani. Hanya Emen yang mau menerima order pengiriman sayur-mayur dari Bandung ke Subang pada malam hari. Dari berbagai literatur yang saya peroleh saat itu yang kemudian diamini Dedi, Emen yang kala itu tengah mengangkut ikan asin dari Ciroyom Bandung, mengalami kecelakaan di sebuah tanjakan di kawasan Ciater. Mobilnya terperosok masuk jurang, terbalik, dan terbakar. Emen meninggal di tempat setelah terbakar hidup-hidup.


Versi kedua menyebutkan, Emen merupakan korban tabrak lari yang mayatnya dibuang di balik hutan karet di tanjakan tersebut. Namun ketika itu cerita tentang Emen versi kedua ini, tak begitu sedetil cerita Emen yang sopir.


Kisah versi kedua ini mulai ada sedikit kejelasan ketika sebuah portal kotasubang memuat kesaksian Sahidin Darajat pada 18 Juni 2014. Sahidin adalah warga setempat yang mengaku mengetahui peristiwa kematian Emen.


Berbeda dengan versi pertama, menurut Sahidin, Emen adalah seorang kernet bus PO Bunga. Ketika melintasi tanjakan tersebut, bus PO Bunga tiba-tiba mogok dan bergerak mundur karena rem tangannya tidak berfungsi. Emen turun dan berusaha mengganjal ban belakang bus tersebut. Sayang, bus tersebut melaju dan melindas Emen hingga tewas di lokasi kejadian.


Menurut Sahidin, peristiwa itu terjadi tahun 1969. Sejak peristiwa kecelakaan yang menewaskan Emen, sering terlihat penampakan yang dipercaya warga setempat sebagai arwah Emen yang bergentayangan.


Sejak itu pula, kata Sahidin, kecelakaan banyak terjadi di tanjakan tersebut. Warga setempat kemudian memberi nama tanjakan tersebut sebagai Tanjakan Emen.


Meski berbeda alur cerita, toh kedua versi itu memiliki kesamaan cerita bahwa Emen adalah perokok berat. Para pengendara yang sering melintasi kawasan tersebut, seperti halnya Dedi, percaya bahwa membuang rokok yang tengah menyala di tanjakan tersebut akan membuat arwah Emen senang dan tidak mengganggunya.


Anda boleh percaya boleh tidak dengan kebiasaan para pengemudi yang selalu membuang sebatang rokok di tanjakan tersebut. Toh, terlepas dari kepercayaan tersebut, aspek keselamatan dalam berkendara tetap haru menjadi hal utama. Apalagi, kawasan tersebut merupakan kawasan pegunungan dengan jalan berkelok, kontur tanah yang ekstrim, dan sering turun kabut. Safety first, please…(Hasanuddin)

Loading...

About the author

Citra

You are what you read! Ungkapan itu membuat kami ingin menyajikan berita tulisan yang sesuai dengan jati diri Anda. Selamat membaca dan silahkan berkomentar...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.