Jumlah satu baterai kanon hanud Type 90/35 mm untuk Arhanud Korps Marinir jelas bukan sesuatu yang ideal, maklum satu baterai artinya hanya terdiri dari empat pucuk kanon. Dalam operasi melindungi obyek vital (obvit) terasa jauh dari kata ideal. Namun pengadaan kanon twin gun buatan Norinco – Cina, seolah menjadi angin segar setelah sekian lama alutsista Arhanud Korps Baret Ungu belum mendapatkan modernisasi peralatan tempur.


Dalam paket gelaran satu baterai (kompi) kanon Type 90/35 mm, selain keberadaan kanon, elemen pendukung yang tak bisa dilepaskan adalah keberadaan truk Howo Sinotruk yang menjadi penyedia genset pada radar pengendali tembakkan AF902 FCS (Fire Control System). Seperti telah dukupas di artikel sebelumnya, Howo Sinotruk juga dilengkapi berbagai peralatan electro optical untuk menunjang kesiapan pada sistem baterai.


Dalam mobilisasi baterai, Howo Sinotruk juga berperan sebagai kendaraan penarik dari FCS AF902 yang berwujud shetler dalam platform trailer dengan dua gardan. Nah, seperti apakah kemampuan FCS AF902 yang juga buatan Norinco ini? Berikut petikannnya dari hasil penelurusan Indomiliter.com dari Kesatriaan Marinir Hartono Cilandak, Jakarta Selatan.


Bobot shelter AF902 FCS ditaksir sekitar 6 ton. Apa yang ada di dalamnya terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu X-band search radar, C-band search/tracking radar dan Ka-band tracking radar. Secara keseluruhan AF902 mengadopsi radar dengan kemampuan 3D (tiga dimensi). Dukungan fitur yang melekat pada AF902 adalah Identification Friend or Foe (IFF), computer subsystem, console. intercom system, sistem hidrolis, power distribution unit, intelligent and command unit serta positioning and orientation device.



X-band search radar beroperasi pada bandwidth 1 Ghz. Antena pada radar ini berputar dengan kecepatan 40 RPM. Sementara untuk jarak jangkau X-band search radar maksimum sejauh 22 km dan jarak deteksi ketinggian hingga jarak 3 km. Jarak minimum kemampuan untuk deteksi sasaran adalah 50 meter. 20 sasaran dapat dipindai secara bersamaan oleh AF902.


Kemudian C-band search/tracking radar beroperasi pada bandwidth 500 Mhz. Jarak maksimum deteksi dan pengintaian C-band radar hingga 32 km. Sementara deteksi dan identifikasi minimal adalah 500 meter. Yang terakhir adalah Ka-band tracking radar yang beroperasi di bandwidth 800 Mhz. Jarak maksimum deteksi radar ini adalah 15 km dan jarak deteksi minimum ada di 500 meter.



Ruang konsol kendali AF902.

Meski kodaranya berupa FCS dengan dukungan radar pemburu, pada prakteknya AF902 dapat saling berkoordinasi, hingga local photo sharing dengan sistem komando operasi lainnya, bahkan mendukung koneksi dengan radar sipil, asalkan data link yang bakal digunakan sudah disiapkan terlebih dahulu. Militer Cina sendiri telah menggunakan AF902 untuk melindungi obvit, dalam gelarannnya, satu unit AF902 dipersiapkan untuk meng-handle empat kanon Type 90/35 mm dan dua peluncur rudal PL-9C.


Dalam menjalankan misi hanud, AF902 diawaki oleh dua operator. Kedua awak berada di dalam box shelter yang mengoperasikan konsol pengendali tembakan dan pantauan kondisi radar. Untuk memudahkan tugas operator, user interface pada layar dibuat user friendly dan mampu menghadirkan situasi serta kondisi real time pada area operasi. Nah, perangkat radar, sensor TV/infra red dan antena komunikasi, kesemuanya disematkan pada bagian atas shelter.


Karena merupakan elemen vital dalam sistem baterai hanud, shelter AF902 dibuat cukup terlindung, seperti bodi shelter yang anti peluru. Meski dilengkapi sistem ventilasi, bisa dipastikan tanpa AC akan sangat pengap kondisi di dalam kabin AF902.  (Gilang Perdana)


Sumber: Indomiliter.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here