Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menggelar Silaturahmi jamuan dengan para jenderal dan para purnawirawan jenderal di Aula Gatot Soebroto, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta (22/9).


Para purnawirawan jenderal yang hadir di antaranya Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, mantan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Agum Gumelar, mantan Danjen Kopassus Prabowo Subianto, Mantan Wapres ke-6 Try Sutrisno, Laksamana Purn TNI Purn Widodo AS, dan Laksamana Purn Agus Suhartono. Hadir juga Letjen Purn Sutiyoso dan mantan Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno.


Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengatakan tujuan forum ini untuk menyambung tali silahturahmi baik dengan senior hingga junior di TNI, serta ingin mendapat masukan dan mendengarkan pengalaman mereka.


“Sengaja tempat saya buat di sini, tempat bapak-bapak karena di sini komando pusat, mudah-mudahan memori kita teringat kembali,” katanya.


Gatot menegaskan TNI hingga saat ini masih dipercaya oleh masyarakat. “Saya laporkan pang ops dan para sistem hadir semua. Masukan baik, pengalaman sejarah masa lalu dimasukkan untuk menyempurnakan visi dan misi TNI akan sangat berguna bagi kami generasi penerus di TNI. Pengalaman saya dan kedalaman pikiran bapak-bapak dalam menjiwai nilai-nilai kebangsaan. Semoga kita tetap bisa menjaga amanah,” tuturnya.


Try Sutrisno yang membuka diskusi mengatakan kesannya terhadap kepemimpinan TNI oleh Jenderal Gatot Nurmantyo. “TNI juga masih dapat kepercayaan tertinggi. Kita meninggalkan TNI legowo, prinsip pemimpin tidak boleh punya sindrom,” katanya.


Bahkan Try juga memberikan pesan kepada Panglima Gatot bahwa ke depan perang tidak berbentuk fisik. “Yang buat TNI bukan pemerintah, tetapi rakyat. Perang nanti bukan fisik, tetapi perang proxy war, ini menghantam semua aspek kita, politik, budaya, dan hankam. Oleh karena itu, saya dukung Anda selama menjabat maupun nanti, kita saling rangkul,” tuturnya.


Menko Polhukam Wiranto mengaku masih bagian dari TNI meskipun kini menjadi bagian dari pemerintah. “Saya mengawali reformasi TNI dari era Pak Soeharto, waktu itu saya dan kawan-kawan Widodo AS, Pak Prabowo, menjadi penghujung TNI di era Orde Baru. Sebagai instrumen pemerintah, kita mengemban misi. Saya berikan elaborasi sedikit, kita bisa tidak menilai nilai misi institusi dengan waktu berbeda, zaman yang beda, situasi politik, dan hukum yang berbeda. Pasti tidak adil,” ungkapnya.


Bahkan, Wiranto berpesan kepada Panglima Gatot untuk menjunjung tinggi sapta marga prajurit. Dalam mengambil keputusan juga harus bijak demi menyelamatkan negeri.


“Saya selamatkan 98 dari perang saudara, kami bhayangkari bangsa Indonesia, karena ketika negara disentuh satu komponennya, kita semua bergerak. Tetapi kalau dari tiga unsur, duanya dibenturkan, kita harus bijak mengambil keputusan bijak, untuk selamatkan negeri ini,” tuturnya.


Sumber : sindonews.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here