Politikus PDIP, Effendi Simbolon menyoroti langkah Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang mengintruksikan untuk menonton film Penghianatan G30S/PKI.

Anggota Komisi I DPR tersebut menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) terlampau lunak dalam menghadapi manuver Gatot. Ia berpendapat jika seharusnya Jokowi selaku Presiden memerintahkan Gatot untuk membatalkan perintah nonton film yang beratar belakang tragedi yang berkaitan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) tersebut.

“Bahasa presiden terlalu lembut, halus. Kadang-kadang membuat orang tidak mengerti. Beliau kan mengatakan ini bagian anak milenial sekarang, tidak mudah dipahami, kan sulit,” ujar Effendi di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (20/9/2017), dikutip dari jawapos.com.

Ia mengatakan jika polemik perihal pemutaran film G30S/PKI tersebut sebeneranya mudah dibendung dengan Jokowi memberi intruksi kepada Panglima TNI. “Meminta Panglima TNI mencabut instruksi itu, ya cukup,” ucapnya.

Sebagai anggota Komisi I yang merupakan mitra TNI di DPR, Effendi mempertanyakan alasan Gatot memerintahkan jajaran prajurit TNI untuk menonton film yang digarap oleh sutradara Arifin C Noer pada tahun 1984 itu.

Menurut Effendi, TNI tidak memerlukan intruksi seperti itu. “Yah kalau mau nonton, nonton aja. Enggak usah harus dibuat instruksi. Kalau instruksi mau perang bolehlah kita perang lawan mana gitu. Ini instruksi nobar kira-kira mereduksi atau posisi yang sebagai Panglima. Tidak perlu lah,” ujar dia.

Effendi berpesan agar masyarakat bersikap realistis terhadap film itu. Ia mengingatkan jika film tersebut dibuat berdasarkan selera pemerintah Orde Baru. Meski dirinya tidak menampik jika tragedi dan kemelut politik pada 1965 benar-benar terjadi.


Ia juga menegaskan jika PKI adalah musuh negara karena komunisme bertolak belakang dengan ideologi Pancasila. Akan tetapi dirinya berpesan jika muatan pada film G30S/PKI harus diluruskan karena bisa menimbulkan persepsi beragam bagi orang yang menonontonya.

Effendi juga mengatakan jika setelah tragedi 1965, justru Orde Baru yang memanen keuntungan.

“Ini kan harus juga ada satu ruang publik yang bisa mengkaji ini. Apa iya sesungguhnya seperti itu? Jangan-jangan ini by design juga. Rezim orba buktinya menikmati juga atas kejadian itu,” tutur anak buah Megawati Soekarnoputri itu.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here