Penyedia Medsos Meraup Untung Besar dari Berita Hoax dan SARA

Posted on


Berkembangnya teknologi di mana setiap orang dapat mengakses media sosial menjadi salah satu hal yang mengkahawatirkan terkait penyebaran berita-berita hoax dan SARA.


Direktur Eksekutif iLab Nanang Syaifuddin menjelaskan bahwa sebenarnya politik identitas terjadi sudah sejak lama. Namun dampak besar yang signifikan baru dirasakan pada 2017 lalu maka menjadi kekhawatiran tersendiri terlebih di sosial media.


“Kita di tahun 2014 sempat membuat aplikasi untuk memantau pemilu dengan konteks partisipasi publik. Kita sudah menemukan waktu itu tapi karena belum ada regulasi jadi tidak dikeluarkan. Waktu itu ada 15 ribu pelanggaran pemilu di Pileg dan hampir 30% politik identitas atau SARA,” ungkap Nanang di Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (4/2/2018).


Temuan Nanang tersebut terlihat berdasarkan laporan yang masuk dari aplikasi yang dibuatnya, baik pelanggaran secara online di media sosial ataupun offline seperti poster dan baliho. Lewat aplikasi sama, pada 2017 justru persentasenya bertambah menjadi hampir 80% laporan mengenai SARA di media sosial.

Baca Juga:  76 Persen Perusahaan RI Percaya MEA Bisa Geliatkan Bisnis

Dengan dimanfaatkannya berbagai media sosial yang kini dipergunakan untuk berkampanye, tak ayal pemilik platform tersebut juga merasa menikmati hal tersebut.


“Sosial media sekarang sangat menikmati kampanye politik SARA karena terkait dengan kepentingan iklan. Jadi algoritma facebook 1,5 tahun terakhir semakin ada melibatkan emosi. Di situ akan mengklasifikasi filter bubble yang digunakan untuk merancang algoritma mereka. Kadang-kadang di sosmed kita hanya bisa melihat orang yang mendukung dan benci pemerintah,” ujar dia.


Masuknya algoritma yang juga diterapkan berbagai penyedia media sosial seperti twitter, youtube, instagram dan lain sebagainya juga akan memunculkan hal yang sama sehingga dapat meraup keuntungan besar dari kepentingan iklan akibat banyak yang mengakses websitenya. Namun, ketika terdapat suatu pelanggaran terjadi, sayangnya jika suatu akun yang menyebarkan hoax atau SARA dilaporkan, prosesnya sangat manual dan lama sehingga isu tersebut terlanjur menyebar ke masyarakat.

Baca Juga:  Presenter Indonesia Bikin Artis-artis Korea Melongo Takjub

Direktur Kode Inisiatif Veri Junaidi menambahkan bahwa sebenarnya ada langkah yang bisa dilakukan dalam meminimalisir polemik penggunaan SARA di media sosial. Menurut Veri yang paling penting adalah penegakan hukum dan juga mencari akar permasalahan politik identitas tersebut.


“Penegakan hukum harus berjalan, tapi di sisi lain kita harus mencari akarnya bagaimana isu SARA masif, penggunaan medsos yang masif dan mempermudah penyebaran konten-konten tersebut. Harus ada kebijakan yang memaksa semua pihak agar konten-konten itu tidak cepat menyebar,” kata Veri.


SARA, Hoax, lanjut Veri, masalah tersebut tumbuh subur bukan hanya dikarenakan media penyebaran, namun juga karena informasi pembanding yang minim. “Jadi pihak penyelenggara dan pihak berwenang harus menyiapkan konten yang mudah diaskses, mudah dipahami, jadi kalau ada info di publik bisa cepat dikonter,” pungkasnya. (nug)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.