Nama Halimah Yacob mendadak jadi buah bibir setelah dirinya terpilih sebagai Presiden Singapura. Hari ini, Rabu (13/9/2017) Halimah akan dilantik menjadi Presiden dengan masa jabatan 6 tahun.

Halimah mendadak jadi perbincangan karena dirinya merupakan presiden wanita pertama untuk Singapura. Selain itu, Halimah juga merupakan perempuan melayu yang memeluk agama Islam.

Namun, masa lalu kelam pernah mewarnai hidup istri pengusaha Mohammed Abdullah Alhabshee tersebut. Sejak kecil, hidupnya dipenuhi beragam perjuangan.

Ketika berusia 8 tahun, ayah Halimah meninggal dunia. Sejak saat itu, Halimah dan empat saudara laki-lakinya dibesarkan oleh sang ibu. Mereka pun tinggal di tempat seadanya, hanya satu petak kamar di sebuah apartemen di Jalan Hindu, Singapura.

Di usia yang masih sangat belia, Halimah harus bengun sebelum matahari terbit. Ia akan membantu ibunya berjualan nasi padang di gerobak sebelum berangkat sekolah.

Dilansir detik.com dari Straitstimes edisi 17 Agustus 2017, masa-masa sekolah Halimah pun penuh lika-liku. Keterbatasan ekonomi menyebabkan Halimah kerap telat membayar biaya sekolah di Singapore Chinese Girls ‘Scool dan Tanjong Katong Girls’.

Tak cuma itu, Halimah juga kerap mengelap meja dan mencuci piring seraya mengerjakan tugas. Meski begitu, kehidupan yang sulit tak mengendurkan semangatnya menempuh pendidikan tinggi.

Setelah lulus SMA, dia mendaftarkan diri ke Fakultas Hukum Universitas Singapura. Ini pun hanya berbekal nekat karena tak ada biaya kuliah yang ia siapkan. Namun, berkat kepintarannya, Halimah mendapatkan beasiswa dari Islamic Religious Council of Singapore senilai 1.000 dolar Singapura.

Halimah akhirnya berhasil menyelesaikan kuliahnya dan bergabung dengan National Trades Union Congress (NTUC) sebagai divisi hukum pada tahun 1978. Sejak saat itu, Halimah terus menapaki karir, hingga ia terjun ke dunia politik dan terpilih menjadi anggota parlemen Singapura dari People’s Action Party di tahun 2001.

Karir politiknya pun makin menanjak, hingga ia menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua Parlemen Singapura di tahun 2013.

6 Agustus 2017 lalu, Halimah menyatakan bahwa dia akan maju dalam Pilpres Singapura. Nyatanya, ia tak perlu menjalani proses pemungutan suara secara nasional untuk menduduki posisi sebagai presiden.

Pasalnya, hanya Halimah satu-satunya kandidat yang dinyatakan memenuhi syarat sementara kandidat lainnya gugur. Ia pun berjanji akan melakukan yang terbaik untuk rakyat Singapura.

“Saya berjanji untuk melakukan sebaik mungkin yang saya mampu untuk mengabdi pada rakyat Singapura dan itu tidak akan berubah apakah ada pemilu atau tidak ada pemilu,” katanya, Selasa (12/9/2017), dilansir Channel News Asia.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here