Tatkala sejumlah elite di Asia Tenggara  tergoda, terpesona  dan  percaya dengan otoriterianisme  seperti China  sebagai contoh untuk membangun ekonomi , justru  ekonom senior   Dr Rizal Ramli kembali mengingatkan bahwa  sistem politik yang otoriter dan terpusat  bukanlah pilihan yang visible, malah cenderung misleading. Justru Dunia Ketiga bisa belajar  dan  Jepang  yang harus menjadi contoh bagi negara-negara berkembang dalam membangun ekonomi melalui jalan demokrasi. Menurut Rizal Ramli dalam pidatonya di Tokyo Kamis kemarin: jalan demokrasi terbuka untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.


Sejauh ini muncul persepsi yang berkembang bahwa untuk dapat tumbuh dengan cepat dan mencapai pertumbuhan dua digit, negara-negara Asia perlu mengikuti sistem politik sentralistik atau terpusat.


Dan sebagian elite Asia , menurut RR, tergoda Sistem Politik Otoriter untuk mengejar pertumbuhan ekonomi. Prof Takashi Shiraishi yang mendengarkan pandangan RR,  mengakui adanya kecenderungan godaan  itu.


Sebab banyak negara yang membuktikan telah mencapai pertumbuhan dua digit selama dua dekade dengan sistem itu.


“Persepsi  pro-otoritarianisme itu belum tentu benar,” sebut begawan ekonomi Rizal Ramli (RR) saat berbicara di GRIPS University, Tokyo, Jepang (31 Jan.- 4 Febr.2018)  pekan ini.  Lawatan ke Tokyo ini sangat bernilai bagi kepentingan RI-Jepang dimana RR sebagai tokoh nasional bertukar pikiran dan berdialog dengan para pemimpin dan tokoh masyarakat Jepang di Tokyo sepekan terakhir.


 



RR berpose sehabis Lunch dgn Shingo Miyamoto, Director Southeast Asia Japan MOFA. Didampingi Motoyasu Tanaka. 



RR seusai makan malam dan diskusi dengan Prof Takashi Shiraishi Ph.D, Tokyo Univ, President IDE didampingi Komaki-san.


Dr Rizal Ramli  di Tokyo (31 Januari – 4 Feb.2018) juga  berdiskusi dengan DR Yasuo Fukuda, Perdana Menetri Jepang (2007-8) yang dikenal sebagai The longest-serving Chief Cabinet Secretary in Japanese history.


“Contohnya Jepang. Setelah Perang Dunia kedua, sebuah Jepang merupakan negara demokratis yang telah terbukti dapat mencapai pertumbuhan dua digit di bawah Perdana Menteri Ikeda selama dua dekade di tahun 1950-an,” kata Rizal Ramli, mentan Menko Kemaritiman dan Menko Ekuin.


Pendorong utama pertumbuhan tinggi adalah strategi dan kebijakan yang dapat menciptakan energi sektor swasta dan negara menjadi harmoni yang progresif.


Rizal melanjutkan, kebijakan perdagangan dan industri yang efektif, kebijakan nilai tukar strategis yang kompetitif, dan kebijakan sosial yang agresif merupakan pendorong utama pertumbuhan dua digit.


“Asia Demokratis dapat mencapai pertumbuhan yang tinggi dan mencapai kemakmuran dengan memiliki campuran kebijakan yang efektif, dan kepemimpinan yang mengubah visi menjadi kenyataan,” tegas  alumnus ITB, Sophia University Tokyo dan PhD dari Boston University AS itu.



Dialog RR dengan para ahli di Universitas Tokyo tentang pergeseran geostrategis dan implikasinya di Asia. (KF)

Loading...

Sampaikan Pendapat