Presiden Amerika Serikat memiliki sebuah tas pribadi yang biasa dibawa oleh ajudannya dalam setiap kesempatan.


Dilihat dari tampilan, tampaknya tas dengan berat 22,5 kg itu tak memiliki keistimewaan apa-apa.


Namun tidak jika dilihat isi dalamnya.


Tas yang terbuat dari kulit dan berwarna hitam tersebut biasa dijuluki ‘Tas Darurat Presiden’. Dan dalam dunia militer lebih dikenal dengan julukan ‘Football‘ atau ‘tas sepakbola’.


Dilansir Business Insider, Senin (8/1/2018), di dalam tas ini terdapat sebuah peralatan canggih yang berisi tombol pengaktifan rudal nuklir lintas benua.


Biasanya, saat kondisi genting dan presiden sedang berada jauh dari Ruang Komando Militer di Gedung Putih, ia tetap memiliki akses untuk mengontrol senjata pemicu ‘kiamat’ tersebut.


Namun, berdasarkan keterangan mantan Direktur Militer Gedung Putih, Bill Gulley, tak hanya tombol nuklir yang ada di tas tersebut. Di dalamnya juga terdapat benda-benda penting lainnya.


1. Buku hitam 75 halaman yang berisi rencana perang panduan untuk melancarkan serangan balasan rudal nuklir ke pusat negara lawan.


2. Buku panduan yang berisi tempat-tempat bagi presiden untuk berlindung pada situasi darurat.


3. Buku panduan siaran nasional mendadak yang terdiri dari 10 halaman.


4. Kartu kode aktivasi senjata nuklir.


Dalam beberapa kesempatan, tampak antena yang menyembul keluar dari tas ini. Hal ini makin menguatkan opini jika Football dirancang untuk situasi perang.


Foto: Businessinsider.com


Robert Patterson, seorang pembawa tas hitam di era Presiden Bill Clinton mengaku selalu membuka isi tas itu ketika istirahat.


“Di saat rehat dulu saya sering membuka isi tas itu untuk sekadar mengingatkan betapa pentingnya keputusan yang diambil oleh presiden ketika tas ini terpakai,” katanya.


Tas hitam ini pertama kali muncul ke publik pada 10 Mei 1963 di kompleks Kennedy di Hyannis Port, Massachusetts.


Saat itu, ajudan Kennedy tampak berjalan di belakangnya sembari menenteng tas hitam tersebut.


Tak hanya itu, pada Mei 1988, Presiden Ronald Reagan juga terlihat dilengkapi dengan tas itu ketika kujungan kenegaraan di Uni Soviet.


Foto: Intisari


Pernah suatu kali, tas itu nyaris digunakan oleh Richard Nixon ketika amarahnya meledak tatkala terprovokasi oleh Uni Soviet di Perang Vietnam.


Beruntung, penasihat presiden dan ajudannya berhasil mengingatkan atasannya agar tak terburu-buru menggunakan bom nuklir tersebut.


Sekarang, diperkirakan jika AS memiliki 925 peluru kendali berhulu ledak nuklir yang bisa menjangkau benua lain dalam hitungan kurang dari 30 menit.


Dahsyatnya, potensi daya ledak yang dihasilkan bisa mencapai 17 ribu kali lipat di atas bom Hiroshima. Itu artinya, kiamat bisa terjadi ketika tombol dalam tas tersebut dipencet.


Cuitan Donald Trump soal tombol nuklir yang menuai kontroversi
Cuitan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, di awal tahun 2018 bikin heboh.


Layaknya anak kecil, dia mengolok-olok kepala negara Korea Utara, Kim Jong Un.


Namun bukan olok-olok biasa, tapi sebuah pernyataan yang sangat besar resikonya terhadap dunia.


Cuitan tersebut sebagai balasan atas pernyataan Kim Jong Un yang melontarkan ancaman akan membumi-hanguskan Amerika dengan rudal nuklir.


Melansir NBC News, awalnya, pada Selasa (2/1/2018), Kim Jong Un mengatakan bahwa ia memiliki tombol nuklir di mejanya, dan nuklir tersebut mampu mencapai Amerika Serikat. Jong Un bahkan menyebut bahwa hal tersebut “bukanlah sekadar ancaman, namun realita.”


Menanggapi pernyataan tersebut, Trump terpancing dan meresponnya melalui Twitter: “Tolong beritahu dia,” tulis Donald Trump dalam akun Twitter pribadinya. “Aku juga punya TOMBOL NUKLIR. Tapi ini jauh lebih besar dan lebih dahsyat daripada miliknya (Kim Jong-un). Dan tentu saja, TOMBOL milikku berfungsi !”



Cuitan Donald Trump tersebut kemudian memicu kecaman dari netizen AS. Merka berbondong-bondong meramaikan Twitter dan menanyakan apakah cuitan tersebut melanggar kebijakan Twitter soal ancaman kekerasan.


Namun berdasarkan dari respon Twitter atas laporan warganet atas cuitan tersebut, Twitter menyebut bahwa “tidak ada pelanggaran kebijakan Twitter terhadap perilaku kekerasan.”


Sumber Berita Terlihat Biasa, Ternyata Tas Presiden AS Donald Trump Ada Tombol Nuklirnya : Jurnalpolitik.id


Loading...

Sampaikan Pendapat