Home / Berita / Tren Berubah, Korban Kekerasan Seksual Kini Didominasi Anak Laki-laki

Tren Berubah, Korban Kekerasan Seksual Kini Didominasi Anak Laki-laki


Pada awal tahun 2018, publik dikejutkan dengan berbagi kasus kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan, mulai dari kasus kekerasan fisik, kekerasan psikis sampai kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan sekolah. Korban dan Pelaku kekerasan pun beragam, mulai dari kepala sekolah, guru, orangtua siswa maupun peserta didik.


Kasus penganiayaan orangtua siswa terhadap salah seorang kepala SMP negeri di Pontianak dan kasus meninggalnya guru Budi di Sampang, Madura akibat pukulan muridnya sendiri sangat viral dan mengejutkan banyak pihak. Masyarakat mempertanyakan ada apa dengan pendidikan kita?


Berdasarkan laporan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), khususnya bidang pendidikan, mereka menerima banyak pengaduan di awal tahun 2018 terkait kekerasan terhadap anak didik yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah, petugas sekolah lainnya, dan anak didik.


Pengaduan yang diterima KPAI di dominasi oleh kekerasan fisik dan anak korbaan kebijakan (76%). Sedangkan kekerasan psikis (9%) dan kekerasan seksual (2%). Selain itu, kasus kekerasan seksual oknum guru terhadap peserta didik yang viral di media , meski tidak dilaporkan langsung ke KPAI, tetapi KPAI tetap melakukan pengawasan langsung mencapai 13% kasus.


Kasus kekerasan seksual yang dilakukan oknum guru tersebut sebagian besar dilakukan di lingkungan sekolah, dan korbannya mencapai puluhan siswa, karena beberapa kasus pelaku telah melakukan aksi bejatnya selama beberapa bulan bahkan ada yang sudah beberapa tahun. Trendnya pun berubah, kalau sebelumnya korban kebanyakan anak perempuan, tetapi data terakhir justru korban mayoritas anak laki-laki. Korban mayoritas berusia SD dan SMP. Misalnya kasus kekerasan seksual oknum guru di kabupaten Tangerang korbannya mencapai 41 siswa, kasus di Jombang korbannya mencapai 25 siswi, kasus di Jakarta korbannya 16 siswa, dan kasus oknum wali kelas SD di Si Surabaya korbannya mencapai 65 siswa.


Ketua KPAI, Susanto mengatakan, jika sebelumnya korban kekerasan seksual kebanyakan adalah anak perempuan, tetapi data terakhir justru korban mayoritas adalah anak laki-laki yang masih duduk di bangku SD dan SMP.



“Trendnya mulai bergeser, kalau dulu masyarakat merasa perempuan harus mendapat proteksi dari keluarga dan ortu, saat ini anak laki pun harus diberikan proteksi secara kuat,” ujar Susanto di  Jakarta Pusat, Senin (19/3/2018).


Susanto mengukapkan , dari data yang berhasil didapatinya dari Polda Jawa Timur, kekerasan terhadap anak di wilayah Jawa Timur terbilang fantastis dengan jumlah korban anak laki-laki yang cukup tinggi.


Tercatat, pada tahun 2016 terdapat 719 korban anak dengan pelaku sebanyak 179 orang laki-laki, tahun 2017 terdapat 393 korban anak dengan pelaku sebanyak 66 orang laki-laki, dan diawal tahun 2018 korban anak mencapai 117 anak dengan 22 pelaku.


Mengenai adanya perubahan trend tersebut, pihak KPAI hingga kini masih terus melakukan kajian komprehensif. Menurutnya, faktor literasi dengan media sosial menjadi salah satu penyebabnya. Saat ini memiliki literasi dengan media yang ramah anak, masih jauh. ” Anak laki-laki dan perempuan punya akses ke media yang sama besar. Namun saat ini laki-laki titik rentannya tinggi jika dilihat dari kasus yang ada. Ini bukan berarti perempuan tidak rentan,” ujar dia.


Susanto lantas memberikan contoh kasus kekerasan seksual terhadap anak di Jambi. Pelaku mengaku sebagai perempuan untuk menjaring korban anak laki-laki. Mayoritas korban pun tertipu dengan modus pelaku.


Ada semacam jebakan, karena yang dijaring adalah anak laki-laki yang tetap suka dengan perempuan. “Yang jadi pertanyaan besar adalah kenapa saat ini justru secara kuantitas laki-laki jauh lebih banyak jadi korban dibanding perempuan. Ini yang masih terus kami kaji,” kata dia.


Sementara itu, Kekerasan seksual terhadap anak menurut End Child Prostitution in Asia Tourism (ECPAT) Internasional merupakan hubungan
atau interaksi antara seorang anak dengan seorang yang lebih tua atau orang dewasa seperti orang asing, saudara sekandung atau orang tua dimana anak dipergunakan sebagai objek pemuas kebutuhan seksual pelaku.
Perbuatan ini dilakukan dengan menggunakan paksaan, ancaman, suap, tipuan bahkan tekanan.


Kekerasan seksual cenderung menimbulkan dampak traumatis baik pada anak maupun pada orang dewasa. Namun, kasus kekerasan seksual sering tidak terungkap karena adanya penyangkalan terhadap peristiwa kekerasan
seksual yang terjadi. Lebih sulit, jika kekerasan seksual ini terjadi pada anak-anak, karena anak-anak korban kekerasan seksual tidak mengerti bahwa dirinya menjadi korban.


Luka fisik bisa segera sembuh, tapi luka yang tersimpan dalam pikiran belum tentu hilang dengan mudah. Hal itu harus menjadi perhatian semua pihak. Anak-anak selain memang wajib dan harus dilindungi, masa depan sebuah bangsa ada di tangan mereka. (wap/rot)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

About Citra

You are what you read! Ungkapan itu membuat kami ingin menyajikan berita tulisan yang sesuai dengan jati diri Anda. Selamat membaca dan silahkan berkomentar...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.