C29M7D

Tramadol adalah salah satu jenis obat keras yang masuk daftar G, dan seharusnya tidak dijual bebas oleh apotek sebab butuh resep dokter untuk memperolehnya. Namun fakta membuktikan bahwa hal sebaliknya terjadi di Kota Kendari Sulawesi Tenggara, saat lebih dari 61 bocah mabuk berat setelah mengonsumsi obat tersebut dan bertingkah seperti orang sakit jiwa.

Langkah tegas pun diambil oleh Polda Sulawesi Tenggara yang langsung menyisir beberapa lokasi, termasuk apotek.

“Dan, kami justru mendapatkan obat itu di sebuah apotek,” ungkap Direktur Narkoba Polda Sulawesi Tenggara, Kombes Satria Adhy Permana, Kamis (14/9/2017).

Mirisnya lagi, Tramadol dijual bebas walau tanpa ada resep dokter. Hasilnya polisi pun menggelandang seorang apoteker dan satu asisten apoteker. Ribuan Tramadol pun disita sebagai barang bukti.

Penggunaan obat tersebut sejatinya adalah untuk pasien yang baru menjalani operasi, sebagai penghilang rasa sakit. Namun ada dosis yang harus dipatuhi dan hanya boleh diberikan oleh dokter.

Hingga Jumat (15/9) telah delapan orang terduga penyalur obat keras itu yang diamankan oleh pihak Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara dan Badan Narkotika Nasional (BNN) termasuk apoteker dan asistennya tersebut.

Tidak hanya tramadol, mereka juga mengedarkan obat keras lain yang memiliki efek sama yakni somadril dan PCC. Pihak berwajib akan menjerat para pelaku dengan Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009, pasal 197 dan pasal 196. Ancaman hukumannya maksimal adalah 15 tahun bui.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here